Dolar Berjuang Naik, Rupiah Berakhir Positif

rupiah - www.voaindonesia.comrupiah - www.voaindonesia.com

JAKARTA – Nyaris tanpa halangan, rupiah mampu melaju mulus di teritori hijau hingga Selasa (25/6) sore seiring dengan sentimen negatif yang masih menyelimuti AS, termasuk dari dan kondisi Timur Tengah. Menurut paparan Index pada pukul 15.44 WIB, mata uang Garuda menguat 22 poin atau 0,15% ke level Rp14.125 per AS.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di posisi Rp14.138 per dolar AS, menguat 27 poin atau 0,19% dari perdagangan sebelumnya di level Rp14.165 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang juga sukses mengalahkan , dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,36% menghampiri yen Jepang.

Dari global, indeks dolar AS mencoba bangkit dari zona merah pada hari Selasa, setelah sempat menyentuh level terendah terhadap euro dan yen, karena tertekan prospek pelonggaran moneter oleh Federal Reserve. Mata uang Paman Sam terpantau menguat tipis 0,040 poin atau 0,04% ke posisi 96,020 pada pukul 15.52 WIB.

Diberitakan Reuters, penjualan greenback telah meningkat setelah Federal Reserve pada pekan lalu mengisyaratkan akan memangkas sebelum akhir tahun karena meningkatnya kekhawatiran tentang dampak dari perang yang dilakukan Presiden Donald Trump terhadap China dan mitra dagang lainnya. Pasar memprediksi terjadi penurunan 50 basis pada bulan depan.

Saat ini, menantikan apakah Trump dan Presiden China, Xi Jinping, setidaknya akan melakukan negosiasi terkait perang dagang mereka ketika bertemu di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, akhir minggu ini. Menurut salah seorang pejabat senior AS, Trump menganggap pertemuan dengan Xi sebagai kesempatan untuk ‘mempertahankan keterlibatannya’ dan melihat di mana China berada dalam sengketa perdagangan mereka.

Selain itu, sentimen negatif untuk dolar AS juga datang dari kondisi geopolitik di Timur Tengah. Sebelumnya, Trump mengenakan sanksi terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan pejabat tinggi Iran lainnya, setelah Teheran menjatuhkan drone AS di dekat Selat Hormuz. “Aset yang dapat digunakan sebagai instrumen alternatif disukai, karena greenback dijauhi. Geopolitik dan The Fed adalah dua alasan utama di balik ini,” tutur ekonom pasar di Sumitomo Mitsui Trust Bank, Ayako Sera.

Loading...