Dolar Bangkit Setelah Data Ekonomi Dirilis, Rupiah Tergelincir di Pembukaan

Jakarta – Kurs dibuka melemah 6 poin atau 0,04 persen ke level Rp 13.365 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (18/1). Sebelumnya, Rabu (17/1) berakhir 0,16 persen atau 21 poin ke posisi Rp 13.359 per AS.

Sedangkan indeks dolar AS diperdagangkan bervariasi (mixed) terhadap sejumlah mata uang utama. The Greenback terpantau naik 0,03 persen menjadi 90,424 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB. Dolar AS bergerak mixed lantaran para tengah mencermati Beige Book terbaru Federal Reserve dan data ekonomi yang baru saja dirilis.

Berdasarkan Beige Book yang dilaporkan kemarin, dari 12 distrik Federal Reserve mengindikasikan jika ekonomi Amerika Serikat terus mengalami perkembangan sejak akhir November hingga Desember 2017, dengan 11 distrik melaporkan kenaikan sedang hingga moderat dan Dallas melaporkan kenaikan yang signifikan.

Laporan tersebut juga mengungkapkan jika prospek untuk tahun ini tetap cerah. Dari sektor ekonomi, melaporkan produksi industri mengalami kenaikan 0,9 persen pada bulan Desember 2017, melebihi prediksi pasar, walaupun output sektor manufaktur AS hanya mengalami peningkatan tipis sebesar 0,1 persen.

Menurut Ekonom Mandiri Rully Arya Wisnubrata, koreksi teknikal belakangan ini terus membayangi rupiah. Selain itu, kurs dollar As juga mulai menguat terhadap sejumlah mata uang utama lantaran para investor mulai mencermati sentimen di AS. “Faktor penting yang ditunggu adalah perkembangan politik di AS, terkait negosiasi antara Partai Demokrat dan Republik untuk mencegah terjadinya government shutdown,” kata Rully, seperti dilansir Kontan.

Partai Demokrat dan Republik dikabarkan tengah berseteru terkait pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) AS. Salah satu hal yang menjadi masalah karena Partai Demokrat ingin mempertahankan Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA), beleid yang melindungi imigran muda dari deportasi.

Di sisi lain, Putu Agus Pransuamirta, Analis Monex Investindo Futures menuturkan jika nilai tukar USD hari ini akan dipengaruhi rilis domestik bruto (PDB) China. Berdasarkan konsensus pasar, PDB China diperkirakan melambat ke angka 6,7 persen. “Jika nilainya lebih tinggi, ada potensi rupiah kembali menguat,” tandasnya.

Loading...