Dolar AS Keok Versus EUR & CAD, Rupiah Naik 14 Poin ke Rp 13.293/USD

Jakarta mengawali perdagangan hari ini, Jumat (8/9), dengan penguatan sebesar 14 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp 13.293 per AS. Sebelumnya, Kamis (7/9) rupiah berakhir 0,20 persen atau 26 poin ke level Rp 13.307 per AS usai diperdagangkan antara Rp 13.307 sampai Rp 13.333 per AS.

Sedangkan indeks dolar AS terpantau melemah 0,68 persen terhadap sejumlah mata uang utama menjadi 91,664 di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB. melemah usai adanya keputusan terkait acuan dari bank sentral Eropa dan Kanada.

Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan bahwa suku bunga zona Euro tetap berada di level 0,00 persen. Meski demikian, Presiden ECB, Mario Draghi menuturkan jika para pembuat kebijakan akan mengurangi stimulus pada musim gugur ini. Keputusan tersebut membuat nilai tukar euro naik untuk kenaikan harian terbesarnya dalam hampir 2 minggu.

Meski euro sempat menguat, namun pernyataan Draghi yang bernada dovish diprediksi memberikan sentimen negatif terhadap euro. Selain itu zona euro juga sedang minim dorongan dari rilis data ekonomi yang positif. “Kenaikan CPI Zona Euro yang tidak terlalu signifikan menyebabkan euro bergerak stabil. Euro kemungkinan akan kembali melemah,” ungkap Anthonius Edyson, analis PT Astronacci International, seperti dilansir Kontan.

Sedangkan the Greenback menyentuh level terendah terhadap dolar Kanada dalam lebih dari 2 tahun usai Bank Sentral Kanada membuat keputusan yang mengejutkan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 25 basis poin menjadi 1,00 persen.

Sementara itu, mata uang Garuda diperkirakan akan tetap bertahan di zona hijau. Walaupun penguatan kali ini belum dapat sepenuhnya memastikan adanya kenaikan lanjutan, akan tetapi sentimen yang ada telah memberikan suntikan dorongan bagi rupiah untuk tetap menguat terhadap dolar AS. “Tetap mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat pergerakan rupiah kembali ,” kata Reza Priyambada, Analis Senior Binaartha Sekuritas di Jakarta, Jumat (8/9).

“Sementara itu, dari dalam negeri adanya rilis PwC yang memperkirakan ekonomi Indonesia berpeluang menjadi lima besar dan pernyataan Sri Mulyani Indrawati, yang mengatakan defisit anggaran pada periode akhir Agustus 2017 telah mencapai 1,65% terhadap domestik bruto (PDB) atau sekitar Rp 224,3 triliun lebih rendah dari tahun lalu cukup membantu rupiah berbalik menguat,” tandasnya.

Loading...