Dolar Anjlok Terkena Profit Taking, Rupiah Melaju 40 Poin di Awal Dagang

rupiah-menguat.12

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (29/9) dengan penguatan sebesar 40 poin atau 0,30 persen ke posisi Rp 13.475 per AS. Kemarin, Kamis (28/9), mata uang Garuda anjlok ke level terendah 10 bulan, yakni melemah 70 poin atau 0,52 persen ke level Rp 13.515 per AS usai bergerak pada rentang angka Rp 13.426 hingga Rp 13.594 per AS.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau turun 0,28 persen menjadi 93,098 di akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB karena tertekan oleh aksi yang dilakukan akibat kenaikan dolar AS belakangan ini. Berdasarkan FedWatch CME Group, probabilitas kenaikan acuan pada pertemuan kebijakan yang akan diselenggarakan pada 12-13 Desember 2017 mendatang kini berada di angka 78 persen.

Sementara itu, untuk sektor Departemen Perdagangan melaporkan pada Kamis (28/9) bahwa bruto (PDB) Amerika Serikat naik pada tingkat tahunan sebesar 3,1 persen pada kuartal II 2017, sesuai dengan konsensus pasar. Pasar pun semakin optimis terkait kebijakan reformasi pajak yang dicetuskan oleh Presiden Donald Trump diyakini bakal segera terealisasi. “Investor jadi optimis sehingga aksi beli dolar AS meningkat,” ungkap Reny Eka Putri, Analis Pasar Keuangan Bank Mandiri, seperti dilansir Kontan.

Walaupun pagi ini rupiah menguat, beberapa analis memprediksi bila peluang rupiah untuk terkoreksi masih terbuka lebar hari ini. Pasalnya sentimen dari luar negeri masih cukup kuat, sedangkan sentimen dari dalam negeri masih minim. “Akhir bulan ini katalis dari domestik yang mendorong rupiah tidak banyak, karena market lebih perhatian dengan perkembangan di Amerika Serikat,” papar Reny.

Di sisi lain, Lukman Leong, Analis Valbury Asia Futures berpendapat bahwa kebijakan penurunan suku bunga acuan BI 7-day repo rate terlalu cepat. Menurut Lukman, pasar memperkirakan jika suku bunga BI baru turun pada kuartal akhir tahun ini. “Pelemahan rupiah sebenarnya masih wajar, cuma terlalu cepat pergerakannya karena dampak keputusan BI,” jelas Lukman.

“Perkembangan ekonomi di Amerika Serikat masih menjadi faktor penentu pergerakan rupiah di perdagangan setidaknya dalam 2-3 hari ke depan,” imbuhnya. Rupiah diperkirakan baru mendapat suntikan sentimen dalam negeri pada pekan depan saat data inflasi terbaru diumumkan oleh pemerintah.

Loading...