Dolar Alami Kenaikan Moderat, Rupiah Berakhir Drop

rupiah melemah

Rupiah harus menutup awal pekan (18/12) ini di zona merah ketika bergerak lebih tinggi seiring optimisme terkait upaya reformasi pajak di Negeri Paman Sam. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI menyudahi hari ini dengan pelemahan sebesar 11 poin atau 0,08% menuju level Rp13.581 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 6 poin atau 0,04% di posisi Rp13.570 per dolar AS ketika akhir pekan (15/12) kemarin. Namun, mata uang Garuda berbalik terdepresiasi 7 poin atau 0,05% ke level Rp13.577 per dolar AS ketika membuka pagi tadi. Sepanjang transaksi hari ini, spot praktis tidak mampu keluar dari zona merah dari awal hingga akhir dagang.

Sementara itu, siang tadi menetapkan tengah berada di posisi Rp13.584 per dolar AS, melemah 11 poin atau 0,08% dari perdagangan sebelumnya di level Rp13.573 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang Asia tidak berkutik versus greenback, dengan pelemahan terdalam sebesar 0,70% dialami rupee India, diikuti rupiah yang merosot 0,21%.

Dari pasar global, indeks dolar AS mempertahankan kenaikan moderat terhadap sekeranjang mata uang dunia pada hari Senin, setelah upaya reformasi pajak Paman Sam bergerak selangkah lebih dekat untuk diratifikasi pada akhir pekan ini. Mata uang greenback terpantau menguat 0,5% ke level 93,980 pada pukul 08.14 waktu setempat.

Dolar AS telah bergerak lebih tinggi setelah anggota Partai Republik di komite perunding Senat DPR pada hari Jumat kemarin memberikan ‘sentuhan akhir’ mengenai perombakan pajak menyeluruh yang melibatkan pemotongan pajak perusahaan besar. Partai Republik yakin kongres RUU pajak akan rampung minggu ini, dengan voting senat dijadwalkan hari Selasa (19/12) dan Presiden diharapkan menandatangani undang-undang tersebut pada akhir minggu ini.

“Senat dan DPR sekarang akan memberikan suara untuk RUU pajak pada minggu ini, dan tampaknya ada beberapa kekhawatiran bahwa semua mungkin tidak berjalan lancar, terutama dengan beberapa senator yang menghadapi masalah kesehatan,” ujar kepala strategi mata uang Mizuho Securities, Masafumi Yamamoto, seperti dikutip Reuters. “Pemerintah AS juga menghadapi kemungkinan  penutupan (government shutdown) jika tidak mencapai kesepakatan setelah tanggal 22 Desember.”

Loading...