Dinilai Lebih Murah, Harga Minyak Solar Industri Berkisar Rp 8.300-8.500 Per Liter

Minyak Solar - (Sumber: bisnis.liputan6.com)Minyak Solar - (Sumber: bisnis.liputan6.com)

Pemerintah membedakan solar yang akan dikonsumsi masyarakat dan industri. Perbedaan solar tersebut dimaksudkan agar solar di SPBU yang disubsidi pemerintah benar-benar dikonsumsi masyarakat. Untuk harga solar industri sendiri sekitar Rp 8.300-8.500 per liter, dibedakan berdasarkan wilayahnya.

Dibedakannya solar untuk industri, dimaksudkan untuk mudah dilacak. Hal tersebut disebabkan pihak industri seringkali membeli solar yang disubsidi dan lebih murah 50 persen. Pelanggaran tersebut sulit dilacak, karena warna yang hampir sama.

Biasanya, harga solar industri lebih murah daripada solar subsidi yang di SPBU. Hal tersebut dipicu pergerakan harga yang cepat berubah setiap hari, sedangkan pemerintah mengevaluasi harga jual BBM setiap 3 bulan.

“Harga di SPBU hanya dijadikan patokan saja, di balik itu ada negosiasi harga sehingga industri bisa mendapatkan harga solar lebih murah dari harga SPBU,” ujar salah satu sumber di poskotanews.com.

Salah satu pemegang izin usaha niaga umum bakar minyak (BBM), PT AKR Corporindo Tbk sempat melakukan penurunan harga jual solar tak bersubsidi bagi industri (High Speed Diesel/HSD).

“Harga yang diberikan akan mengacu pada banyaknya volume yang dibeli,” ujar Sekretaris Perusahaan AKR Corporindo, Suresh Vembu.

Ia mengatakan bahwa lebih murahnya harga jual solar AKR daripada solar subsidi di SPBU tidak lepas dari turunnya harga minyak (gasoil) Singapura yang selama ini menjadi acuan pembentukan harga solar perseroan.

Dikarenakan masih mengacu pada MOPS (Mean of Platts Singapore), menurut Suresh, tidak perlu heran apabila harga jual solar industri AKR lebih murah daripada solar subsidi yang dijual ke masyarakat.

“Dan ini adalah strategi dan policy () setiap perusahaan untuk mengambil pasar. Jadi saya pikir sah-sah saja kalau AKR lebih murah,” cetus Suresh.

Salah satu penyebab masih tingginya harga jual solar subsidi di SPBU, dikarenakan diwajibkan melakukan pencampuran biodiesel untuk setiap liter solar (fame), serta dikenakannya Pajak Penambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) pada setiap penjualan BBM.

Sementara pengamat dari Universitas Trisakti, Pri Agung berpendapat, fenomena lebih murahnya solar industri dibandingkan solar bersubsidi dalam beberapa hari terakhir disebabkan karena pemerintah telah menginstruksikan Pertamina untuk menahan harga BBM di SPBU

Hal ini dilakukan menyusul kerugian Pertamina akibat tak konsistennya pemerintah menerapkan pencabutan subsidi pada Premium dan hanya memberikan subsidi Rp 1.000 per liter untuk solar.

“Jadi kalau sekarang harga minyak dunia turun sementara harga solar di SPBU tidak juga turun, saya lihat ini lebih dikarenakan upaya pemerintah untuk memberikan ruang Pertamina untuk menutupi selisih rugi penjualan BBM yang katanya mencapai Rp 12 triliun.” kata Pri Agung.

Loading...