Diklaim Tingkatkan Hasil Panen, Harga Pupuk NPK Mutiara 50 Kg Dijual Rp 450 Ribuan

Pupuk NPK - jendela-tani.blogspot.co.idPupuk NPK - jendela-tani.blogspot.co.id

Para petani di Indonesia sebenarnya sudah memperoleh sejumlah kemudahan dengan adanya pupuk bersubsidi dari yang dengan harga lebih murah. Subsidi pupuk ini diharapkan bisa meningkatkan dan kuantitas hasil pertanian di Tanah Air. Namun sebagian petani ada yang menilai bahwa pupuk bersubsidi kurang begitu bagus jika dibandingkan dengan pupuk non subsidi seperti NPK Mutiara, TSP, ZA, dan sebagainya.

Sebagai , pupuk nonsubsidi seperti NPK Mutiara 50 kg dijual dengan harga sekitar Rp 450 ribuan per karung sedangkan pupuk NPK Mutiara Yaramila harga per sak isi 50 kilogram bisa lebih mahal lagi, yakni mencapai Rp 550 ribu. Pupuk NPK Mutiara memiliki kandungan nitrogen, phosphate, dan kalium lengkap yang diklaim dapat menjamin keseragaman penyebaran semua unsur hara supaya pertumbuhan dan hasil tanaman maksimal.

Pupuk NPK Mutiara 16-16-16 yang banyak beredar di memiliki bentuk berupa prill yang diklaim bebas debu dan penanganannya mudah untuk diaplikasikan di lapangan, baik dengan cara manual atau dengan mekanisasi supaya penyebarannya lebih merata dan akurat. lain dari penggunaan pupuk NPK Mutiara adalah dapat meningkatkan hasil produksi serta jumlah dan buah atau umbi.

Meskipun para petani bebas memilih hendak menggunakan pupuk bersubsidi atau tidak, pada praktiknya pendistribusian pupuk bersubsidi di Indonesia kerap mengalami hambatan sehingga mengakibatkan ketersediaan pupuk bersubsidi langka di pasaran. Yang lebih malang lagi, fenomena ini kerap terjadi ketika memasuki musim tanam.

Sebagai contoh, di Kecamatan Hutaraja Tinggi (Huragi), Kabupaten Padang Lawas (Palas) para petani mengaku kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. Kondisi memprihatinkan ini kabarnya telah dirasakan sejak tahun 2017 lalu. Petani yang mampu biasanya memakai pupuk non subsidi, sedangkan petani yang tidak mampu akhirnya justru tidak bisa memupuk lahan pertaniannya dan mengakibatkan hasil produksi pertanian menurun.

“Selama ini, untuk kebun sawit seluas 3,5 hektare dan tanaman padi darat seluas dua hektare, saya menggunakan pupuk bersubsidi jenis phonska, SP36 dan ZA. Ketiga jenis pupuk bersubsidi tersebut dicampur dan diaplikasikan ke lahan perkebunan sawit dan lahan padi darat saya. Tapi, tiga bulan ini tidak ada pupuk bersubsidi, kebun sawit dan lahan padi darat saya, tidak saya pupuk,” kata salah satu petani bernama H. Ahmad Tajuddin Nasution, seperti dilansir Medanbisnisdaily.

Tanaman sawit yang tidak dipupuk ini hasilnya baru terlihat 3 bulan kemudian dari hasil panen yang menurun. “Kita berharap, pemerintah dapat segera mengatasi kelangkaan pupuk bersubsidi ini. Untuk meningkatkan hasil produksi petani, mengingat, saat ini waktu tepat untuk memupuk karena sudah turun hujan,” tandas Tajuddin.

Loading...