Dikenal Sebagai Pemimpin Segmen Teh Celup, Sariwangi Isi 100 Dijual Harga Rp 34.200

Teh Sariwangi - (Sumber: food.ndtv.com)

Selama puluhan tahun, Sariwangi hadir sebagai yang namanya selalu diingat oleh masyarakat Indonesia. Sariwangi dikenal sebagai dalam segmen teh celup, setelah sebelumnya masyarakat menggunakan teh tubruk.

teh Sariwangi khas dengan kemasan kotak berwarna biru dengan gambar cangkir berisi teh. Tempat membeli teh tersebut salah satunya di Indomaret. ini tersedia dalam berbagai jumlah isi kantung teh, ada yang isi 25, 50, bahkan 100. Tentu saja masing-masing berbeda. Misalnya, untuk teh Sariwangi isi 100 harganya sekitar Rp 34.200.

Baru-baru ini, PT Unilever mengadakan kerjasama dengan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KBPN) untuk jual teh. Dengan volume pembelian 710 ton senilai kurang lebih Rp 12 miliar, teh produksi PT Nusantara (PTPN) akan digunakan oleh Unilever sebagai bahan baku teh merek Sariwangi dan juga Lipton.

Sedangkan PT Karya Mas Makmur akan menggunakannya sebagai bahan baku teh merek Villa. “Kesepakatan ini hanya untuk dua bulan saja, ke depan akan ada lagi,” kata Iman Bimantara, Acting President Director KBPN.

Menurutnya, kesepakatan jual beli antara KBPN dengan Unilever dan PT Karya Mas Makmur ini merupakan tonggak penting. Sebab, ini adalah penjualan langsung KBPN kepada end user, bukan trader.

Dengan penjualan ke industri teh secara langsung, dia berharap harga teh dalam negeri akan lebih stabil. Saat ini harga rata-rata penjualan teh di KBPN jenis orthodox adalah US$ 1,60 per kg dan CTC sebesar US$ 1,95 per kg.

Stabilitas harga menjadi penting, sebab menurut Iman, teh impor terutama dari Vietnam deras masuk ke dalam negeri. Teh asal Vietnam dikhawatirkan akan mengganggu keberadaan teh karena harganya lebih murah 40% dibandingkan produk . “Sampai Agustus 2017, total impor teh sudah mencapai 16.000 ton,” katanya. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah menaikkan bea masuk teh dari saat ini 20%.

Di lain tempat, Director Trade and Small Holder Relation Sari Wangi Andrew T Supit menuturkan, bahwa selain memenuhi kebutuhan pasar ekspor yang baru, Sari Wangi juga akan tetap menggenjot ekspor teh ke beberapa negara, seperti Rusia, Inggris dan Amerika. “ teh terus menunjukkan peningkatan,” kata Andrew.

Mayoritas atau sekitar 80% hasil produksi teh Sariwangi dilepas ke pasar ekspor. Sisanya, baru dipasarkan ke dalam negeri. Produk teh Sari Wangi yang ke luar negeri dalam bentuk bulk atau curah, dan biasanya dibeli oleh perusahaan prosesor.

Sariwangi telah memproduksi dan memasarkan beberapa jenis teh, mulai dari orthodox, CTC (cutting, tearing, dan curling) hingga teh hijau. Selain dari perkebunan teh milik Sariwangi, suplai bahan baku teh didapatkan juga dari pihak ketiga, atau melalui kemitraan dengan petani. Lahan milik perusahaan tersebar di daerah Sukabumi dan Ciwidey, Jawa Barat.

Menurut Andrew, sejauh ini, suplai teh dari perkebunan inti Sari Wangi masih sangat kecil. “Produksi teh dari sendiri hanya menyumbang 20% terhadap total produksi teh perusahaan, atau masih di bawah 10.000 ton per tahun,” ungkapnya.

Director Trade and Small Holder Relation Sari Wangi mengatakan bahwa untuk menyuplai kebutuhan bahan baku teh, pihaknya juga melakukan impor. Ia mengaku,bahwa impor tersebut dilakukan karena jumlah suplai dari dalam negeri terus berkurang.

 

Loading...