Diharapkan Menguat, Rilis Data Inflasi Bakal Jadi Penopang Laju Rupiah

Meski dibuka melemah, diramal masih bisa melanjutkan tren pada perdagangan awal pekan (2/5) ini. Rilis yang rencananya bakal diumumkan Badan Pusat Statistik () pada siang nanti diharapkan mampu menopang pergerakan Garuda.

Menurut laporan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan dibuka melemah 23 poin atau 0,17% di posisi Rp13.203 per . Namun, mata uang Garuda berbalik 27 poin atau 0,20% ke level Rp13.154 per dolar AS pada pukul 08.16 WIB. Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau turun tipis 0,08% ke 93,005 setelah sebelumnya dibuka melemah 0,1% di level 92,986.

“Sentimen positif datang dari inflasi bulan April yang diperkirakan turun,” papar Analis Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto. “Sementara dari eksternal, ISM Manufacturing AS April diprediksi turun.”

Pada pukul 11.00 WIB, Kepala BPS, Suryamin, memang rencananya akan memberikan paparan ke publik, di antaranya Perkembangan Indeks Harga Konsumen (Inflasi) April 2016, Indeks Harga Perdagangan April 2016, Perkembangan Nilai Tukar dan Harga Gabah April 2016, serta Perkembangan Indeks Harga Produsen Triwulan I 2016. Sejumlah analis memperkirakan Indonesia akan kembali mencatatkan deflasi dengan median 0,29% (mtm) atau inflasi 3,76% (YoY).

‘Selama awal pekan hingga pertengahan pekan, kans rupiah untuk menguat tetap terbuka,” sambung Rully. “Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.165 hingga Rp13.200 per dolar AS.”

Pada penutupan perdagangan akhir April (29/4) kemarin, rupiah mampu menguat 10 poin atau 0,08% ke Rp13.180 per dolar AS. Sepanjang perdagangan akhir pekan lalu, rupiah bergerak di kisaran Rp13.174 hingga Rp13.239 per dolar AS.

Loading...