Digoyang Data Inflasi AS, Rupiah Melempem di Awal Dagang

Penguatan rupiah berkat dukungan neraca yang diprediksi tidak akan berlanjut pada perdagangan awal pekan (19/9) ini. Pasalnya, rilis data AS yang memuaskan bakal menjadi penghalang bagi mata uang Garuda untuk bergerak di zona hijau.

Seperti dilaporkan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan tipis 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.163 per AS. Kemudian, pada pukul 08.37 WIB, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.158 per AS. Sementara itu, indeks AS juga terpantau berbalik 0,082 poin atau 0,09% ke 96,026 setelah sebelumnya menguat pada akhir pekan lalu.

“Rupiah yang sempat unggul pada akhir pekan lalu karena data neraca perdagangan dalam negeri yang surplus kemungkinan tidak akan berlanjut pada hari ini,” ujar Analis Uang , Rully Arya Wisnubroto. “Rilis data inflasi AS yang memuaskan bakal menjadi penghalang bagi laju mata uang domestik.”

Pada akhir pekan lalu, AS mengumumkan tingkat inflasi Agustus 2016 sebesar 0,2%. Angka ini lebih baik ketimbang konsensus ekonom yang memprediksi tingkat inflasi AS hanya 0,1%. Biro Statistik AS juga merilis tingkat inflasi inti tumbuh 0,3% dari sebelumnya 0,1%, sedangkan ekonom memprediksi inflasi inti cuma tumbuh 0,2%.

“Selain itu, di awal pekan ini nyaris tidak ada sentimen yang bisa mendukung rupiah,” sambung Rully. “Katalis internal baru datang pada 21-21 September mendatang ketika Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.”

Hampir senada, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, menilai bahwa pergerakan rupiah pada hari ini bakal cenderung mendatar. Pasalnya, data inflasi AS yang membaik dan laju minyak dunia di perdagangan Asia yang cenderung turun berimbas pada penguatan dolar AS.

“Rupiah hari ini kemungkinan bergerak pada rentang Rp13.165 hingga Rp13.125 per dolar AS,” tutur Reza. “Tetap cermati sentimen yang ada dan waspadai pelemahan lanjutan.”

Loading...