Digitalisasi Mom-and-Pop Kios Tarik Investor, Kuasai 80% Grosir Indonesia

Belanja di Kios - timikaexpress.comBelanja di Kios - timikaexpress.com

JAKARTA – Digitalisasi ekonomi mom-and-pop store di Indonesia telah menarik uang para , bahkan ketika negara sedang dilanda pandemi yang entah kapan berakhir. Bisnis kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari ini, biasanya milik keluarga atau yang dikerjakan di , saat ini telah menguasai sekitar 80 persen grosir dalam negeri.

Dilansir Nikkei, BukuWarung, penyedia aplikasi pembukuan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pada hari Selasa (29/9) kemarin mengumumkan bahwa mereka telah mengumpulkan sejumlah modal yang tidak ditentukan dari investor setelah lulus dari Y-Combinator, akselerator terkemuka AS. BukuWarung telah mengumpulkan tiga putaran pendanaan sepanjang tahun ini, sehingga totalnya, menurut perusahaan, menjadi ‘8 digit dolar AS’. Perusahaan berfokus pada warung, toko pinggir jalan, dan kios mom-and-pop yang menjual kebutuhan sehari-hari, seperti kopi instan, makanan ringan, dan rokok. 

Warung selama ini dianggap sebagai penyedia layanan penting untuk masyarakat Tanah . Namun, wabah COVID-19 memberikan pukulan telak karena jarak sosial telah memaksa pelanggan menjauh dari toko ke situs web. Meski mengalami kemunduran, startup Indonesia yang melayani segmen tersebut terus menarik modal dari investor global.

BukuKas, startup lain yang menawarkan aplikasi buku besar digital untuk usaha kecil, mengumpulkan 9 juta dolar AS dalam pendanaan Pra- A pada bulan Agustus, sedangkan Ula, yang membantu pengecer kecil merampingkan rantai pasokan mereka, mengumpulkan 10,5 juta dolar AS pada bulan Juni. Di segmen yang sedikit berbeda, Wayhoo, sebuah startup yang berfokus pada digitalisasi penjual makanan jalanan, mengumpulkan 5 juta dolar AS pada bulan Agustus.

Faktor utama daya pikat para pemula ini adalah bahwa meskipun ada gangguan COVID-19, bisnis kecil terus menjadi bagian integral dari masyarakat Indonesia, terutama di pedesaan. Usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang 99 persen dari semua perusahaan, mempekerjakan 89 persen tenaga kerja sektor swasta, dan menyumbang 57 persen ke PDB negara, menurut Bank Dunia. Kumpulan data berbeda dari Euromonitor International menunjukkan bahwa pengecer tradisional menyumbang 80 persen dari 108 miliar dolar AS penjualan makanan di Indonesia pada tahun 2018.

“Warung akan terus menjadi penting setelah pandemi,” kata Chinmay Chauhan, salah satu pendiri BukuWarung. “Pertanyaan serupa (tentang perlunya warung) muncul di masa lalu ketika e-commerce dan semuanya telah dimulai, tetapi masih jauh bagi pengecer untuk benar-benar mendigitalkan. Sekarang, menurut saya, digitalisasi tidak akan terjadi tanpa ‘mengganggu’ warung ini.”

Sesuai dengan kata-kata Chauhan, dua platform e-commerce besar di Indonesia, Tokopedia dan Bukalapak, melipatgandakan fokus mereka ke segmen warung. Kedua unicorn, perusahaan swasta bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS, menawarkan rantai pasokan yang efisien dan juga memungkinkan warung untuk menjual produk digital seperti data internet.

“Terlepas dari COVID-19, perusahaan akan tetap pada strategi untuk memperluas keterlibatannya dengan bisnis mom-and-pop,” tutur Rachmat Kaimuddin, CEO Bukalapak, beberapa waktu lalu. “Masyarakat masih kurang nyaman bertransaksi online (dan) masih suka tatap muka. Mereka suka membeli dari tetangga, kios mom-and-pop. Kios sangat penting bagi masyarakat Indonesia, dan dibutuhkan, baik offline maupun online.”

Loading...