Didorong Keyakinan Investor, Rupiah Bangkit dan Ditutup Menguat Tipis 7 Poin

Setelah tertekan nyaris sepanjang hari, rupiah mampu bangkit pada sesi Senin (29/2). Index pada pukul 15.59 WIB melaporkan, rupiah pada hari terakhir Februari ini ditutup terapresiasi ke Rp13.375 per dolar AS, tipis 7 poin atau 0,05 persen dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp13.382 per dolar AS.

Pada perdagangan Senin pagi, rupiah dibuka melemah 24 poin atau 0,18 persen ke Rp13.406. Pelemahan kurs rupiah berlanjut pada pukul 10.50 WIB, dengan terdepresiasi 11 poin atau 0,08 persen ke Rp13.393 per dolar AS, seiring melempemnya ASEAN lainnya, seperti dolar Singapura (-0,12 persen), peso Filipina (-0,26 persen), dan ringgit Malaysia (-0,21 persen).

Namun pada siang hari pukul 13.00 WIB, rupiah mampu rebound menuju level Rp13.388 per dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp13.413 per dolar AS (terlemah) hingga Rp13.385 per dolar AS (terkuat).

Penguatan mata uang Garuda juga dilaporkan . Pada pukul 15.59 WIB, rupiah diwartakan menguat 55 poin atau 0,41 persen ke level Rp13.375 per dolar AS.

Kembali terapresiasinya rupiah ini salah satunya didorong keyakinan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2016 usai Bank Indonesia secara berturut-turut menurunkan acuan menjadi 7 persen. “Namun meski menguat, penguatan tersebut tidak terlalu tinggi,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta.

Hal ini menurut Rangga disebabkan angka pada Februari 2016 yang diperkirakan . “Kenaikan angka inflasi akan membuat peluang penurunan BI rate kembali mengecil,” sambungnya.

Di sisi lain, Kepala Riset NH Securities Indonesia, Reza Priyambada, mengungkapkan bahwa sentimen pernyataan Menteri Keuangan bahwa rupiah masih akan tahun ini cukup memberikan dorongan positif bagi laju mata uang Garuda. “Sebelumnya, perkiraan akan adanya pelemahan mampu ditepis sehingga laju rupiah membaik. Diharapkan tren ini bisa terus berlanjut,” ujar Reza.

Loading...