Dibuka Turun Tipis, Rupiah Berharap Sokongan Data Inflasi Domestik

rupiah melemah 14

masih rentan mengalami tekanan karena indeks terus menguat seiring kembalinya sentimen hawkish The Fed. Seperti dilaporkan Bloomberg Index, mata uang Garuda membuka awal pekan (3/4) ini dengan tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.323 per AS. Kemudian, pada pukul 08.32 WIB, spot kembali turun 4 poin atau 0,03% ke posisi Rp13.326 per AS.

masih melanjutkan penguatan meski hanya tipis, sejalan dengan kembalinya sentimen hawkish The Fed di tengah meredupnya optimisme kebijakan fiskal Donald Trump,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Penguatan juga terbantu pelemahan euro yang selain akibat sentimen , juga dipicu inflasi Zona Euro yang anjlok pada bulan Maret 2017.”

Saat ini, Rangga menambahkan, fokus tertuju pada indeks manufaktur yang dirilis pagi ini serta inflasi yang diumumkan siang nanti. “Inflasi diperkirakan stabil dengan kecenderungan naik di kisaran 3,88% year-on-year disebabkan kenaikan tarif listrik di awal Maret 2017 yang tertahan oleh tren penurunan pangan,” sambung Rangga.

Hampir senada, Analis Senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, juga mengungkapkan bahwa mata uang Garuda masih cukup rentan terhadap adanya sentimen negatif yang dapat mengubah arah berbalik melemah seiring laju dolar AS yang terus menguat. “Dolar AS berbalik menguat seiring pelemahan yang dialami euro,” ujar Reza.

“Rupiah hari ini kemungkinan bergerak di rentang support Rp13.345 per dolar AS dan resistance Rp13.283 per dolar AS,” sambung Reza. “Tetap cermati sentimen yang ada yang dapat menghalangi potensi penguatan rupiah.”

Pada perdagangan akhir pekan (31/3) kemarin, rupiah harus berakhir melemah secara dua hari beruntun, di tengah penguatan the . Mata uang Garuda ditutup melemah tipis 6 poin atau 0,05% ke level Rp13.322 per dolar AS, setelah diperdagangkan di kisaran Rp13.316 hingga Rp13.328 per dolar AS.

Loading...