Dibuka Menguat, Turunnya Harga Minyak Bakal Batasi Gerak Rupiah

Usai The Fed memutuskan untuk menahan mereka, diharapkan dapat kembali ke jalur pada perdagangan awal pekan ini (26/9). Meski begitu, penguatan diprediksi cukup terbatas mengingat harga dunia yang kembali anjlok.

Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan dengan penguatan tipis 5 poin atau 0,04% ke level Rp13.076 per dolar . Namun, pada pukul 08.34 WIB, Garuda berbalik terdepresiasi 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.084 per dolar . Sementara itu, indeks dolar terpantau melemah 0,03 poin atau 0,03% ke level 95,444 pada pagi ini.

“Sentimen The Fed dan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan menjadi 5%, serta meningkatnya dana tebusan tax amnesty memang dapat menolong rupiah,” kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada. “Namun, sentimen melemahnya laju minyak mentah dunia diprediksi menghambat potensi kenaikan rupiah lebih lanjut.”

Senada, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, juga mengatakan bahwa turunnya harga minyak dunia di akhir pekan lalu bisa mengurangi dorongan penguatan rupiah pada hari ini. “Harga minyak turun menyusul spekulasi bahwa kesepakatan untuk membatasi produksi antara negara OPEC dan non-OPEC belum akan terjadi dalam waktu dekat,” kata Rangga.

Sementara itu, Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto, menambahkan bahwa ruang penguatan bakal terbatas pada hari ini karena pasar dalam negeri maupun eksternal masih minim data di pengujung bulan. “Secara fundamental, rupiah memang stabil. Kalau ada koreksi, juga secara teknikal,” ujarnya.

Rully pun menduga mata uang domestik bakal bergerak di rentang Rp13.075 hingga Rp13.150 per dolar AS. Sementara, Reza memprediksi rupiah berada di level Rp13.057 hingga Rp13.120 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Loading...