Dibuka Menguat Tipis, Rupiah Tunggu Dukungan Data Inflasi Dalam Negeri

mengawali perdana di awal tahun 2017 dengan langkah . Seperti diwartakan Bloomberg Index, Garuda mengawali sesi dagang Selasa (3/1) ini dengan menguat tipis 3 poin atau 0,02% ke level Rp13.470 per . Sayangnya, pada pukul 08.34 WIB, spot langsung berbalik 5 poin atau 0,04% ke posisi Rp13.478 per .

Meski demikian, pergerakan rupiah diprediksi berpotensi menguat seiring masih bertahannya sentimen positif di pekan ini. Imbal hasil negara maju, seperti Amerika Serikat, turun lebih cepat dibandingkan penurunan imbal hasil US Treasury, yang menandakan divergensi kebijakan moneter yang lebar.

“Sementara, dari dalam negeri kekhawatiran fiskal mulai meredup melihat defisit APBN-P 2016 yang hanya di kisaran 2,64% terhadap hingga Desember 2016,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Jadi, sentimen positif terhadap rupiah diperkirakan masih akan bertahan di pekan ini.”

Sementara itu, Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, mengatakan bahwa faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan rupiah pasca-libur Tahun Baru adalah inflasi dalam negeri. inflasi Indonesia pada Desember 2016 diproyeksikan berada di level 5,4% secara bulanan, sedangkan secara tahunan bertengger di posisi 3,1%.

“Meski demikian, optimisme global memasuki awal tahun dan penantian pelantikan Donald Trump sebagai Presiden AS bisa menjadi amunisi bagi the greenback untuk melanjutkan dominasi,” ujar Putu. “ AS juga masih didukung oleh data ISM manufaktur AS Desember 2016 yang diprediksi tumbuh dari 53,2 ke 53,7.”

Karena itu, Putu memprediksi bahwa rupiah akan cenderung melemah pada hari ini, walaupun rentangnya masih akan sempit. “Namun, jika data inflasi Indonesia tubmuh jauh lebih baik dari perkiraan, kans rupiah untuk bergerak menguat tetap terbuka,” tambah Putu.

Loading...