Dibuka Menguat, Rupiah Masih Minim Sentimen Pendukung

rupiah - www.businesstimes.com.sgrupiah - www.businesstimes.com.sg

Meski dibuka di zona hijau, namun rupiah diprediksi masih rentan mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (9/1) ini karena sedikitnya sentimen pendukung. Seperti dipaparkan Bloomberg Index, mata Garuda mengawali hari ini dengan menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke level Rp13.428 per . Sebelumnya, spot harus ditutup melemah 13 poin atau 0,10% di posisi Rp13.429 per pada akhir dagang Senin (8/1) kemarin.

Seperti dikutip Kontan, Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa pada pekan ini, tidak ada penting yang bisa berpengaruh terhadap pergerakan mata uang global. Karena itu, ia memprediksi mata uang Garuda pada transaksi hari ini relatif bergerak stagnan dan berada di kisaran Rp13.425 sampai Rp13.450 per dolar AS, dengan kecenderungan melemah.

Senada, Ekonom Bank Central Asia, David Sumual, memaparkan bahwa mata uang NKRI pada perdagangan hari ini akan bergerak stabil di rentang Rp13.400 sampai Rp13.450 per dolar AS. Pasalnya, menurut David, rupiah sudah bergerak menguat sepanjang pekan lalu, dan tren tersebut akan membuat mata uang rentan mengalami koreksi secara teknikal.

Sementara itu, dari global, indeks dolar AS diprediksi akan bergerak stabil di level 93,348 terhadap sekeranjang mata uang utama dunia pada hari ini, usai harapan kenaikan suku masih tetap tinggi meski data nonfarm payroll Paman Sam mengecewakan. Pertumbuhan pekerjaan memang melambat dari yang diperkirakan pasar, tetapi kenaikan gaji bulanan telah menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja.

“Secara umum, jika dilihat dalam konteks, ini masih menunjukkan pasar tenaga kerja yang cukup kuat,” kata Kepala Investasi di Grup Klien Swasta US Bank di Helena, Montana, Bill Northey, seperti dikutip Reuters. “Tidak ada apa-apa di sana untuk menghalangi proyeksi investor bahwa Federal Reserve akan bergerak lagi (untuk menaikkan suku bunga), kemungkinan pada bulan Maret.”

Meski demikian, data inflasi AS yang tetap rendah membuat investor memprediksi Bank Sentral AS hanya akan menaikkan suku bunga acuan mereka sebanyak dua kali pada tahun ini. Sebelumnya, Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, kemarin telah menuturkan bahwa hanya dua kenaikan suku bunga yang mungkin dilakukan pada tahun 2018, mengingat harga komoditas yang masih lemah.

Loading...