Dibuka Menguat 24 Poin, Laju Rupiah Menanti Efek FOMC Meeting

Meski menjelang meeting akan tetap tinggi di global, namun rupiah pada perdagangan Rabu (27/4) diramal akan kembali ke tren penguatan. Ini seiring kembali melemahnya indeks AS imbas consumer confidence index AS yang turun cukup drastis.

Menurut laporan Bloomberg Index, rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan dibuka menguat 24 poin atau 0,18% ke posisi Rp13.181 per dolar AS. Kemudian, Garuda kembali terapresiasi 26 poin atau 0,20% ke Rp13.179 per dolar AS pada pukul 08.10 WIB. Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau turun 0,06% ke level 94,518 setelah dibuka di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,05% di level 94,521.

“Rupiah berpeluang untuk menguat, walaupun volatilitas menjelang FOMC meeting akan tetap tinggi di pasar global,” jelas Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Sementara, indeks dolar AS menjelang FOMC meeting setelah consumer confidence index AS turun cukup drastis.”

Namun, ditambahkan Rangga, perhatian investor masih akan tertuju pada hasil FOMC meeting yang akan datang Kamis dini hari nanti. “Fed Funds Rate (FFR) target diperkirakan tetap di 0,25% hingga 0,50% , dan Gubernur The Fed, Janet , belum akan beranjak dari stance dovish sehingga diperkirakan pelemahan indeks dolar AS akan berlanjut,” sambungnya.

Senada, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, menilai rupiah akan mencoba bergerak positif mematahkan tren pelemahan yang sebelumnya terbentuk. “Spekulasi akan harapan The Fed belum akan menaikkan tingkat serta mulai adanya rebound pada komoditas membuat laju dolar AS cenderung dilakukan aksi jual dan berimbas positif pada rupiah,” terang Reza.

Pada perdagangan Selasa (26/4) kemarin, rupiah ditutup melemah tipis 6 poin atau 0,05% ke Rp13.205 per dolar AS. Rupiah melemah ketika pasar makin optimistis Sentral AS belum akan menaikkan suku bunganya pada rapat yang digelar 26-27 April 2016 waktu setempat.

Loading...