Dibuka Melesat 132 Poin, Rupiah Perkasa Usai Dolar AS Terkoreksi

Peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan awal pekan ini (6/6) terbuka lebar. Melemahnya indeks dolar AS seiring harapan kenaikan suku bunga yang mereda serta kenaikan indeks harga gabungan () dan rencana Bank Indonesia merelaksasi aturan LTV atau kredit properti bakal menjadi penyokong laju sepanjang .

Index melaporkan, rupiah membuka perdagangan awal pekan ini dengan menguat 132 poin atau 0,97% di posisi Rp13.463 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.20 WIB, Garuda kembali melesat 128 poin atau 0,94% ke level Rp13.467 per dolar AS.

“Pelemahan dolar AS di pasar sejak pertengahan pekan lalu dipastikan masih akan terus berlanjut,” ujar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Hal ini seiring dengan harapan kenaikan suku bunga The Fed yang mulai turun.”

Indeks dolar AS anjlok 1,6% pada Jumat (3/6) malam seiring keluarnya rilis tenaga kerja non-pertanian AS Mei 2016 yang hanya bertambah 38.000. Padahal, rata-rata penambahan lima tahun terakhir sebanyak 200.000 tenaga kerja. “Tingkat pengangguran AS yang terpangkas hingga 4,7% tidak memengaruhi pesimisme yang tumbuh karena lebih diakibatkan banyaknya angkatan kerja yang keluar dari pencarian pekerjaan,” sambung Rangga.

“Fokus pasar saat ini masih tertuju pada meeting pekan depan,” tambahnya. “Meski, saat ini peluang kenaikan FFR target mulai tergerus.”

Sementara, Analis Riset Treasury PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Resti Aviadinie, menyatakan, mata uang Garuda bakal ditopang faktor internal, seperti IHSG di akhir pekan lalu serta rencana Bank Indonesia merelaksasi aturan LTV atau kredit properti. “Rupiah hari bisa menguat terbatas di rentang Rp13.580 hingga Rp13.630 per dolar AS,” kata Resti.

Loading...