Dibuka Melemah 12 Poin, Rupiah Bakal Alami Tekanan Jangka Pendek

rupiah pagi

Laju rupiah pada perdagangan Jumat (22/4) ini diramal masih akan bergerak stagnan. Bahkan, tak tertutup kemungkinan rupiah akan mengalami tekanan dalam jangka pendek seiring menguatnya indeks AS dan turunnya harga minyak dunia.

Menurut laporan Index, rupiah mengawali perdagangan dengan dibuka melemah 12 poin atau 0,09% ke 13.165 per dolar AS. Kemudian, mata uang Garuda kembali terdepresiasi 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.161 per dolar AS pada pukul 08.09 WIB.

“Rupiah dalam jangka pendek bisa kembali tertekan seiring dengan menguatnya dolar AS dan turunnya harga minyak dunia,” papar Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta. “Di sisi lain, ECB ( Eropa) memutuskan untuk mempertahankan acuan maupun jumlah stimulus yang diberikan, sambil melempar kritik ke pemerintah Uni Eropa bahwa stimulus fiskal juga penting bagi prospek perekonomian.”

Harga minyak mengakhiri penguatannya, meski hanya turun tipis. Di sisi lain, dolar AS berhasil menguat tipis usai jobless claim turun drastis ke 247.000.

“Keputusan Bank Indonesia mempertahankan di 6,75% memang sudah sesuai dengan perkiraan pasar,” tambah Rangga. “Namun, itu membuat penguatan rupiah mulai jenuh.”

Senada, Analis Central Capital Futures Wahyu, Tri Wibowo, mengatakan bahwa arah rupiah tergantung sajian data AS dan pernyataan hasil pertemuan ECB. “Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.040 hingga Rp13.240 per dolar AS,” ujarnya.

Pada perdagangan Kamis (21/4) kemarin, rupiah ditutup melemah 9 poin atau 0,07% ke Rp13.153 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah juga dibuka melemah 36 poin atau 0,27% di Rp13.180 per dolar AS.