Dianggap Ancaman Keamanan, Telegram Juga Diblokir Di Beberapa Negara

telegram-blokir-web

menjadi sesuatu yang mudah digunakan dan dapat ditingkatkan penggunaannya. Sebagai CEO , Pavel Durov, mengatakan bahwa ia termasuk orang yang jarang melakukan panggilan suara.

Di beberapa negara seperti Saudi Arabia, Telegram merupakan aplikasi yang dianggap menyusahkan penggunanya. Di lain negara, seperti Cina dan Oman, aplikasi tersebut sudah jelas-jelas diblokir.

Di Iran, dimana pengguna Telegram mencapai 40juta orang, juga telah diblokir oleh penyedia layanan setempat dan operator seluler. Hal ini mengikuti peraturan di negara tersebut.

Telegram telah mempunyai beberapa masalah dengan suatu negara. Salah satunya di Indonesia. Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian mengatakan mulanya pemerintah tidak ingin menutup aplikasi Telegram di Indonesia. Pemerintah hanya ingin Telegram memberikan akses kepada kepolisian agar bisa melacak yang dilakukan kelompok-kelompok .

Permintaan pemberian akses Telegram itu, kata Tito, telah disampaikan kepolisian kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika. Ia menjelaskan, pihaknya membutuhkan akses Telegram karena hal ini menyangkut keamanan negara.

“Jadi beri kami akses khusus untuk kasus terorisme, tapi tidak dilayani,” katanya. Karena tidak mendapat tanggapan positif dari pihak Telegram, akhirnya pemerintah memutuskan menutup aplikasi tersebut. Lewat pemblokiran ini diharapkan Telegram mau berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia.

Tito Karnavian menuturkan dia mendengar pihak Telegram sudah membangun komunikasi dengan pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait dengan pemblokiran ini. “Kalau mau dibuka lagi, fine. Tapi kami diberikan akses kalau ada data-data berkaitan dengan terorisme,” ujarnya.

Tetapi langkah tersebut ditanggapi berbeda oleh Pakar Komunikasi Digital, Anthony Leong. Ia mengatakan langkah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memblokir situs web Telegram merupakan sebuah langkah kemunduran.

“Gagal paham jika langsung diblokir, ini kemunduran teknologi di tengah kemajuan zaman. Jika memang ada keluhan soal konten bisa langsung disurati ke Telegram, tapi nyatanya sampai sekarang menurut CEO Telegram belum menerima permintaan resmi dari Indonesia,” kata Anthony.

Dia menyebut, dengan diblokirnya web Telegram makan akan banyak kerugian yang dialami masyarakat jika telegram dan aplikasi media sosial ditutup dari segi pertumbuhan ekonomi.

“Bagaimana kita bisa terus berkembang dalam ekonomi jika media sosial nantinya ditutup. Ini Telegram ditutup saja berapa banyak yang merugi, berapa banyak pedagang yang omsetnya turun signifikan. Ini harus jadi concern pemerintah,” tegasnya.

Selain itu, Kemenkominfo untuk menutup media sosial asing yang tidak mau membuka kantor di Indonesia merupakan hal yang kurang relevan.

“Sekarang kita di zaman serba digital, perusahaan media sosial itu platformnya yang dijual. Sama seperti Uber, apa dia harus sediakan taksi, Airbnb juga tidak perlu miliki hotel sendiri untuk penyewaan. Ini hanya soal teknis. Cukup koordinasi dengan PIC yang ditunjuk untuk wilayah-wilayah tertentu,” tuturnya.

Sebelumnya, Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo, Semuel A. Pangerapan mengatakan bahwa pemblokiran Telegram lantaran banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut yang bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Loading...