Data Tenaga Kerja AS Positif, Rupiah Lunglai di Awal Pekan

rupiah

Data terbaru yang dilaporkan positif langsung ‘mengirim’ ke zona merah pada perdagangan awal pekan (6/11) ini. Seperti dipaparkan Bloomberg Index, Garuda membuka hari ini dengan melemah 47 poin atau 0,35% ke level Rp13.545 per . Sebelumnya, spot sempat ditutup menguat 54 poin atau 0,40% di posisi Rp13.498 per dolar pada perdagangan Jumat (3/11) lalu.

Akhir pekan kemarin, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan total lapangan pekerjaan non-pertanian (nonfarm payroll) di negara tersebut meningkat sebesar 261.000 pada bulan Oktober 2017, meski masih berada di bawah ekspektasi pemerintah AS yang sebesar 300 ribu tenaga kerja. Sementara, tingkat pengangguran di Paman Sam di bulan yang sama turun tipis menjadi 4,1%.

Sebelumnya, pada bulan September 2017, laporan Departemen Tenaga Kerja AS menyebutkan ada sekitar 18 ribu tenaga kerja yang terserap. Hasil ini pun menunjukkan lapangan kerja baru di Paman Sam terus terbuka dan tampaknya mampu segera pulih pasca-bencana alam. “Dengan serapan sekitar 1,5 juta tenaga kerja sejak Presiden Donald Trump resmi menjabat, plus 260 ribu pada Oktober, arah kebijakan negara menjadi amat jelas,” kata Sekretaris Press Gedung Putih, Sarah Huckabee Sanders.

Para investor sendiri memang mengawasi laporan penggantian non-pertanian dan mencoba menemukan petunjuk tentang kapan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan mereka berikutnya. Sebelumnya, di awal bulan ini, sentral AS tersebut memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan mereka, namun membuka peluang kenaikan suku bunga di bulan Desember mendatang.

“Aktivitas negara AS meningkat dengan laju yang baik,” ungkap Research Analyst FXTM, Lukman Otunuga. “Perangkat FedWatch CME pun menunjukkan kenaikan ekspektasi peningkatan suku bunga di bulan Desember mendatang menjadi 98%.”

Dari dalam negeri, pelaku saat ini sedang menantikan laporan produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal ketiga yang menurut rencana bakal diumumkan hari ini. Ekonomi dalam negeri kuartal ketiga tahun 2017 diramalkan akan tumbuh sebesar 5,14% dibandingkan tahun lalu atau year-on-year, sekaligus lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 5,01%.

Loading...