Data PDB AS Capai Posisi Tertinggi, Rupiah Melempem di Awal Pekan

Rilis data domestik bruto () AS kuartal ketiga yang tumbuh lebih tinggi di atas prediksi memberi angin segar kepada untuk menguat sekaligus menekan laju . Karena itu, mata uang Garuda pun diprediksi tidak bakal bisa berbuat banyak pada awal pekan (31/10) ini.

Seperti diwartakan Index, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan tipis 2 poin atau 0,02% ke level Rp13.053 per AS. Namun, pada pukul 08.56 WIB, spot berbalik menguat 2 poin atau 0,22% ke posisi Rp13.049 per AS. Sementara itu, indeks AS terpantau naik 0,01 poin atau 0,01% ke level 98,357 setelah dibuka di zona merah.

Seperti diketahui, data PDB AS yang dirilis akhir pekan lalu tumbuh 2,9% secara tahunan. Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir, sekaligus lebih tinggi dari konsensus Bloomberg yang sebesar 2,6%.

Pertumbuhan PDB Negeri Paman Sam itu sejalan dengan pandangan Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang mengatakan ekonomi akan melaju secara perlahan. Di saat yang sama, pendapatan masyarakat juga tumbuh stabil dan menjadi penopang konsumsi rumah tangga. Konsumsi rumah tangga menjadi motor pertumbuhan di saat tengah seret.

“Dukungan internal terhadap rupiah masih belum cukup kuat,” jelas Analis PT Central Capital Futures, Wahyu Tri Wibowo. “Di sisi lain, AS baru saja merilis data PDB kuartal ketiga yang tumbuh 2,9%.”

Di samping itu, Kamis (3/11) mendatang, The Fed berencana mengumumkan tingkat suku bunga mereka. Meski diprediksi suku bunga masih akan tetap, namun mencari tahu potensi kenaikan bunga di bulan Desember. “Minat pelaku pada aset berisiko alias risk appetite memburuk menjelang pemilihan Presiden AS serta pertemuan FOMC,” tambah Analis Uang PT Bank Mandiri Tbk, Rully Arya Wisnubroto.

Karena itu, Rully pun memperkirakan mata uang Garuda hari ini bakal melemah di kisaran Rp13.015 hingga Rp13.065 per dolar AS. Sementara, Wahyu memprediksi rupiah bakal melempem di rentang Rp12.950 hingga Rp13.150 per dolar AS.

Loading...