Data Manufaktur AS Naik Signifikan, Rupiah Melempem di Awal Dagang

Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang makin meningkat seiring AS yang naik signifikan membuat laju semakin perkasa. Tak ayal, hal ini pun diprediksi bakal membatasi ruang penguatan sepanjang perdagangan Selasa (25/10) ini.

Seperti dilaporkan Index, mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan sebesar 19 poin atau 0,15% ke posisi Rp13.031 per dolar AS. Kemudian, pada pukul 08.43 WIB, spot kembali 11 poin atau 0,08% ke level Rp13.023 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau ditutup menguat 0,06 poin atau 0,06% ke 98,756 pada Senin malam atau Selasa pagi WIB.

Sebelumnya, data yang positif dan komentar dari pejabat mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Data awal HIS Markit pada Senin (24/10) kemarin menunjukkan indeks PMI manufaktur AS mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir pada September. Kenaikan juga terlihat pada imbal hasil US Treasury.

Fakta tersebut semakin meyakinkan bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga mereka pada Desember 2016. Probabilitas kenaikan suku bunga acuan saat ini mencapai 74% pada Desember, menurut data program FedWatch dari CME Group. “Bahkan, komentar dovish pejabat The Fed tampaknya masih mencakup kenaikan suku bunga pada Desember,” ujar analis mata uang di Oanda, Alfonso Esparza.

Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Rangga Cipta, mengungkapkan bahwa ruang penguatan rupiah masih tersedia meski sudah sangat terbatas, setidaknya dalam jangka pendek. “Malam nanti ditunggu consumer confidence index AS yang diperkirakan turun,” kata Rangga.

Loading...