Data Inflasi Gagal Menolong, Rupiah Ditutup Melemah

Data dalam negeri pada bulan Oktober 2017 yang masih relatif rendah ternyata gagal mengangkat rupiah untuk keluar dari zona merah. Alhasil, menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI harus mengakhiri perdagangan Rabu (1/11) ini dengan pelemahan sebesar 17 poin atau 0,13% ke level Rp13.580 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah sempat ditutup menguat 19 poin atau 0,14% di posisi Rp13.563 per dolar AS pada perdagangan Selasa (31/10) kemarin. Namun, pagi tadi mata uang Garuda gagal mempertahankan tren positif setelah dibuka melemah 8 poin atau 0,06% ke level Rp13.571 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.566 hingga Rp13.597 per dolar AS.

Siang tadi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa selama bulan Oktober 2017, Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,01%, dengan laju inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2017 sebesar 2,67% dan inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 3,58%. Laju inflasi ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 0,14% dan prediksi Bank Indonesia yang sebesar 0,09%.

“Inflasi terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,28%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bakar sebesar 0,18%; dan kelompok sandang sebesar 0,18%,” ujar Kepala BPS, Suhariyanto. “Selain itu, kelompok menyumbang 0,21%, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan sebesar 0,16%.”

Meski laju inflasi domestik tergolong rendah dan relatif terjaga, namun hal tersebut nyatanya tidak membawa dampak positif terhadap gerak rupiah. Pasalnya, dari , indeks dolar AS terpantau bergerak menguat 0,125 poin atau 0,13% ke 94,677 pada pukul 10.40 WIB, ketika mengambil sikap wait and see jelang hasil pertemuan Federal Reserve untuk mengetahui petunjuk mengenai pengetatan kebijakan moneter berikutnya.

Reuters melaporkan, The Fed diperkirakan belum akan mengubah tingkat pada pertemuan bulan November ini, namun investor akan mengawasi indikasi baru mengenai kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate pada bulan depan. Di samping itu, pelaku pasar juga menanti keputusan Presiden Donald Trump mengenai siapa Gubernur The Fed berikutnya yang rencananya diumumkan Kamis (2/11) waktu setempat.

“Ekspektasi pasar cukup banyak sejalan dengan proyeksi komite The Fed sendiri terhadap kenaikan suku bungan terakhir tahun ini,” kata Kepala Analis ACLS Global, Marshall Gittler. “Oleh karena itu, tidak ada urgensi untuk menaikkan (suku bunga) sekarang atau memberi peringatan kepada orang-orang akan tindakan yang akan segera terjadi.”

Loading...