Data Ekonomi Eropa Tekan Dolar, Rupiah Justru Berbalik Loyo

Rupiah gagal mempertahankan posisinya di zona hijau meski indeks AS masih bergerak lemas karena tertekan yang . Menurut Index pukul 15.59 WIB, mata uang NKRI terpaksa mengakhiri transaksi Rabu (11/10) ini dengan pelemahan sebesar 18 poin atau 0,13% ke level Rp13.530 per dolar AS.

Sebelumnya, pada Selasa (10/10) kemarin, rupiah ditutup naik tipis 6 poin atau 0,04% di posisi Rp13.518 per dolar AS. Kemudian, pagi tadi tren positif mata uang Garuda masih berlanjut dengan dibuka menguat 14 poin atau 0,10% ke level Rp13.498 per dolar AS. Sepanjang hari ini, spot bergerak di kisaran Rp13.494 hingga Rp13.543 per dolar AS.

Dari , indeks dolar AS sebenarnya kembali mengalami koreksi seiring rilis data ekonomi kawasan Eropa yang positif serta ketidakpastian situasi geopolitik di Semenanjung Korea. Mata uang Paman Sam terpantau melemah 0,118 poin atau 0,13% menuju level 93,172 pada pukul 08.16 WIB, sekaligus menjadi penurunan beruntun dalam empat sesi terakhir.

Kemarin sore waktu setempat, rilis data ekonomi Jerman tersaji positif karena mengalami surplus sebesar 21,6 miliar euro, atau berada di atas prediksi pelaku pasar di angka 20 miliar euro. Mata uang euro pun langsung meningkat 0,009 poin atau 0,08% menuju level 1,817 per dolar AS pada pukul 08.27 WIB, selain didorong oleh proyeksi European Central Bank (ECB) melakukan pembelian aset.

Di tempat lain, mata uang pound sterling juga berhasil memanfaatkan momentum pelemahan greenback, diiringi dengan data manufaktur dan industri Inggris yang positif. Total output produksi di sektor industri tercatat tumbuh sebesar 1,6% pada bulan Agustus 2017, sedangkan sektor manufaktur naik sebesar 2,8%. “Data ini berhasil memicu performa mata uang tunggal euro terhadap dolar AS,” tulis riset Asia Trade Point Futures.

Sementara itu, siang tadi Bank Indonesia menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.509 per dolar AS, terdepresiasi 18 poin atau 0,13% dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.491 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mata uang Asia bergerak variatif versus greenback, dengan penguatan tertinggi sebesar 0,17% dialami dolar Taiwan, sedangkan pelemahan terdalam sebesar 0,14% menghampiri renminbi China.

Loading...