Data Ekonomi AS Mixed, Rupiah Ditutup Stagnan di Akhir Mei

AS yang bergerak meski ekonomi Paman Sam dilaporkan mixed ternyata membuat rupiah tidak mampu bergerak bebas. Menurut catatan Index pukul 15.59 WIB, setelah bergerak dalam rentang sempit, mata uang Garuda harus mengakhiri Rabu (31/5) ini di level Rp13.323 per dolar AS, stagnan atau sama seperti sebelumnya.

Di awal perdagangan, rupiah dibuka dengan penguatan sebesar 3 poin atau 0,02% ke posisi Rp13.320 per dolar AS. Istirahat siang, mata uang Garuda kembali naik perlahan 2 poin atau 0,02% ke level Rp13.321 per dolar AS. Jelang penutupan atau pukul 15.45 WIB, spot masih bertahan di zona hijau setelah menguat 8 poin atau 0,06% ke posisi Rp13.315 per dolar AS.

Dari , dolar AS mampu bergerak positif seiring dengan harapan kenaikan meski data ekonomi Paman Sam menunjukkan hasil mixed. Setelah dibuka dengan penguatan sebesar 0,149 poin atau 0,15% ke level 97,429, mata uang Paman Sam kembali menguat 0,108 poin atau 0,11% ke posisi 97,388 pada pukul 07.40 WIB.

Para analis mengatakan, data ekonomi AS yang menunjukkan hasil mixed pada Selasa (30/5) kemarin masih mendukung harapan bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga di bulan depan. Tingkat belanja konsumen AS mencatat kenaikan terbesar dalam empat bulan pada bulan April, sedangkan inflasi bulanan mengalami rebound. Hal tersebut menunjukkan naiknya permintaan yang dapat memungkinkan Bank Sentral AS menaikkan suku bunga pada bulan Juni.

Anggota Dewan Gubernur Fed, Lael Brainard, menyatakan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lanjutan, meski angka inflasi yang rendah dapat meyakinkan The Fed untuk menunda pengetatan lebih lanjut. Menurut data Thomson Reuters, para investor saat ini melihat 86,6% kemungkinan untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada pertemuan kebijakan berikutnya.

Sementara itu, Bank Indonesia siang tadi menetapkan kurs tengah berada di level Rp13.321 per dolar AS, terapresiasi 15 poin atau 0,11% dibandingkan perdagangan sebelumnya di posisi Rp13.336 per dolar AS. Di saat yang bersamaan, mayoritas mata uang di Asia terlihat menguat versus greenback, dengan penguatan tertinggi dialami won Korea Selatan sebesar 0,41%, disusul dolar Taiwan sebesar 0,33%.

Loading...