Data Deflasi Agustus 2016 Picu Pelemahan Rupiah di Penutupan

rupiah-menguat.2

Jakarta rupiah terpantau menguat tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp 13.269 per AS pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (1/9). Nilai tukar mata uang Garuda selama 3 hari terakhir ini kerap berubah secara drastis di akhir perdagangan, begitu pula pada hari Kamis ini.

Satu jam menjelang penutupan posisi rupiah masih 18 poin, tetapi pada akhir perdagangan rupiah mendadak menguat 1 poin.

“Rupiah bergerak menguat seiring dengan data ekonomi 2016 yang mengalami deflasi, situasi itu memberi harapan akan adanya pelonggaran kebijakan di domestik dalam rangka membantu pemulihan ekonomi,” kata pengamat uang Bank Woori Saudara Indonesia Tbk, Rully Nova di Jakarta, Kamis (1/9).

Berdasar data dari diketahui bahwa deflasi Agustus 2016 sebesar 0,02% usai bulan Juli mengalami inflasi sebesar 0,69%. Laju inflasi tahunan tercatat 2,79%, turun dari sebelumnya, yakni 3,21%.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo, deflasi Agustus 2016 dipicu oleh 3 kelompok pengeluaran, yakni bahan , , serta komunikasi dan jasa keuangan. “Deflasi Agustus 2016 dikarenakan setelah lebaran, -harga turunnya sangat tajam. Pada umumnya bulan Agustus itu terjadi inflasi,” ujar Sasmito.

Menurut Rully Nova, deflasi Agustus mendorong harapan target inflasi 2016 bisa terpenuhi. BI memiliki target inflasi 4% dengan plus minus 1%.

“Dengan inflasi yang rendah maka potensi Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI rate) kembali terbuka, situasi itu diharapkan dapat membuat yield di surat utang negara (SUN) kembali menarik sehingga memicu capital inflow,” ujarnya.

Sementara itu, rupiah sepanjang hari ini diperdagangkan di kisaran angka Rp 13.235 hingga Rp 13.308 per dolar AS. Terbatasnya gerak rupiah juga masih disebabkan oleh rencana kenaikan suku bunga .

“Sentimen eksternal, terutama dari Amerika Serikat terkait Fed fund rate masih membayangi mata uang rupiah,” tandas Rully.