Dampak Pengetatan Kebijakan The Fed & ECB, Investor Beralih ke Mata Uang Negara Berkembang

Investor Beralih ke Mata Uang Negara Berkembang - sidomi.com

Istanbul – Para kini tampaknya mulai tertarik dengan mata uang dari -negara berkembang. Tren ini mulai terlihat setelah Amerika Serikat (Federal Reserve) dan Eropa (ECB) secara perlahan memperketat kebijakan moneter mereka. Meski demikian, investor tetap menjauhi -negara dengan yang masih belum pulih.

Langkah pelonggaran moneter sebelumnya di AS dan Eropa setelah krisis keuangan tahun 2008 lalu telah mendorong aliran dana ang deras ke negara-negara berkembang karena investor mencari tingkat pengembalian yang lebih tinggi. “Berdasarkan dari Institute of International Finance menunjukkan, Investasi obligasi dan ekuitas di pasar ini mulai Desember 2008 hingga musim panas 2017 mencapai 2,35 triliun,” demikian seperti dilansir Nikkei.

The Fed dan European Central Bank (ECB) kini tengah berhati-hati menuju pengetatan kebijakan, termasuk menaikkan dan mengurangi pelonggaran kuantitatif. Akan tetapi yang telah kembali ke AS akhirnya justru mengalir lagi ke pasar negara berkembang usai pelantikan Presiden AS Donald Trump pada Januari 2017 lalu. Para investor pun kini diketahui semakin selektif dalam menanamkan modalnya.

Mata uang Lira Turki melemah di kisaran 3,98 terhadap dolar AS pada Rabu (22/11) lalu dan tercatat sebagai mata uang dengan performa terburuk di antara mata uang lain dari pasar negara berkembang. Lira Turki dilaporkan telah melemah lebih dari 10% selama 3 bulan terakhir.

utama yang menyebabkan anjloknya Lira diperkirakan karena hubungan Turki dan Washington yang memburuk berkaitan dengan penanganan pasukan Kurdi di Suriah. Sementara itu, ketidakpastian politik di Afrika Selatan terkait kepemimpinan Presiden Jacob Zuma juga turut membebani rand.

Sebaliknya rupee India dan rupiah Indonesia justru menguat terhadap USD. Harga minyak yang melemah telah membantu India dan Indonesia untuk mempersempit defisit anggaran mereka dan mengendalikan angka inflasi. Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (24/11) rupiah diperdagangkan menguat 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp 13.504 per dolar AS. Para investor kini juga tengah mencermati agenda politik di tahun 2018, tepatnya saat Meksiko dan Brasil akan mengadakan pemilihan presiden.

Loading...