Dihadang COVID-19, Investasi di Startup ASEAN Tetap Tumbuh Selama Q2 2020

Investasi - iswan1810.blogspot.comInvestasi - iswan1810.blogspot.com

SINGAPURA – di startup Asia Tenggara dilaporkan tetap tumbuh pada kuartal April-Juni 2020 meskipun dihadang oleh pandemi coronavirus. Perusahaan yang bergerak di bidang e-commerce dan fintech memimpin penawaran karena memperoleh momentum ketika COVID-19 mendorong layanan secara online.

Dilansir dari Nikkei, menurut data yang dihimpun oleh platform informasi startup yang berbasis di Singapura, DealStreetAsia, nilai kesepakatan penggalangan dana di kawasan ASEAN naik 91% pada menjadi 2,7 miliar dolar AS. Sementara, jumlah naik 59% menjadi 184 selama tiga bulan hingga Juni, naik dari 116 yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selama kuartal ini, banyak negara menerapkan kebijakan lockdown, yang membatasi kesempatan membuat kesepakatan. Ketidakpastian memang mengurangi sentimen di antara beberapa investor, tetapi yang lain tetap menaruh uang tunai di atas meja. “Sejumlah besar modal dikumpulkan oleh berbagai dana modal ventura tahun lalu,” tutur Kuo-Yi Lim, salah satu pendiri dan mitra pengelola di Monk Hill Ventures yang berbasis di Singapura.

Sejak pertengahan 2010-an, booming pendanaan startup di Asia Tenggara telah dipimpin oleh Grab asal Singapura dan Gojek dari Indonesia, dua perusahaan besar yang terkenal di kawasan ini. Pada kuartal pertama 2020, mereka bersama-sama mengumpulkan dana lebih dari 2 miliar dolar AS, sekitar 70% dari total secara regional.

Namun, data untuk kuartal terakhir melukiskan gambaran yang berbeda. Yang memimpin wilayah adalah sektor e-commerce, yang mengumpulkan 691 juta dolar AS, logistik sebesar 360 juta dolar AS, dan fintech senilai 496 juta dolar AS. Beberapa perusahaan yang beroperasi secara lokal juga menarik dana yang cukup besar, menunjukkan pandemi ini telah menciptakan peluang bagi perusahaan baru yang lebih luas.

Pengumpul modal terbesar untuk kuartal ini adalah e-commerce unicorn Indonesia, Tokopedia, yang memperoleh 500 juta dolar AS dari perusahaan investasi Singapura, Temasek Holdings. Sementara, Tiki, perusahaan e-commerce Vietnam, mengumpulkan 130 juta dolar AS dalam kesepakatan yang dipimpin oleh dana ekuitas swasta, Northstar Group. “Kami melihat pertumbuhan signifikan dalam kebutuhan belanja pelanggan, terutama untuk masker wajah hingga pencuci tangan,” tutur Ngo Hoang Gia Khanh, wakil presiden Tiki untuk pengembangan perusahaan.

Persaingan dalam e-commerce Vietnam cukup sengit di antara pemain lokal dan regional, tetapi Tiki membedakan diri dengan layanan uniknya. Menggunakan jaringan pusat pemenuhan pesanan secara nasional, mereka menawarkan layanan ekspres yang disebut TikiNow. Layanan ini mengirimkan paket kepada pelanggan dalam waktu dua jam setelah menerima pesanan, yang lebih cepat dari pesaing. Ini juga menawarkan instalasi gratis langsung untuk barang-barang berat.

Fintech juga menjadi sektor yang sedang naik daun. Voyager Innovations, perusahaan di balik pembayaran mobile Filipina, Paymaya, mengumpulkan 120 juta dolar AS pada April dari pemegang saham yang ada, termasuk dana ekuitas swasta AS, KKR, dan raksasa teknologi China, Tencent Holdings. Putaran pendanaan memberi perusahaan tambahan kekuatan finansial untuk bersaing dengan pesaing domestik Mynt, yang didukung oleh Alibaba Group Holding.

Di Myanmar, Digital Money Myanmar, yang dikenal dengan merek Wave Money-nya, mengumumkan pada Mei kemarin bahwa Ant Financial Group China, operator Alipay, akan menginvestasikan 73,5 juta dolar AS. Wave Money adalah penyedia layanan keuangan seluler terkemuka di Myanmar, memungkinkan orang untuk mentransfer uang secara digital. Pada 2019, transfer Wave Money mencapai 4,3 miliar dolar AS secara domestik, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, startup fintech yang berbasis di Bangkok, Synqa Holdings, mengumpulkan 80 juta dolar AS dari investor Thailand dan Jepang. Menurut pendiri sekaligus CEO Synqa, Jun Hasegawa, terlepas dari masa-masa yang sulit seperti sekarang, pihaknya melihat banyak peluang dalam mempercepat pembayaran digital dan transformasi digital untuk perusahaan.

Sementara para startup ini mengambil peluang di tengah pandemi, yang lain, terutama yang bergerak di bidang transportasi dan perjalanan, telah terpukul keras. Mereka sekarang memangkas untuk tetap bertahan. Meski demikian, beberapa perusahaan masih berhasil mengumpulkan sejumlah besar uang. Gojek mengantongi 300 juta dolar AS, sedangkan Traveloka mengumpulkan 100 juta dolar AS pada kuartal kedua tahun ini.

Penawaran Gojek, mulai dari pembayaran, naik , hingga pengiriman makanan, masih menjadikannya investasi yang menarik bagi perusahaan yang ingin meningkatkan profil regional mereka. Namun, tidak demikian dengan Traveloka, yang bisnisnya bergantung pada orang yang bepergian. Walau begitu, investor yakin bahwa perusahaan akan kembali ke pertumbuhan setelah perjalanan kembali dibuka di wilayah tersebut.

Ke depan, dengan pandemi yang berpotensi masih belum segera berakhir, membuat kesepakatan di Asia Tenggara mungkin melambat, prediksi para investor. Michael Lints, seorang mitra di Golden Gate Ventures Singapura, mengatakan bahwa penggalangan dana oleh perusahaan tahap awal mungkin akan mengalami sedikit pelambatan di paruh kedua tahun ini, terutama jika krisis semakin dalam.

Loading...