Covid-19 Hantam Industri Tekstil Asia, Sejumlah Merk Batalkan Pesanan

Industri Tekstil Asia - www.brinknews.comIndustri Tekstil Asia - www.brinknews.com

PHNOM PENH/JAKARTA – Empat bulan setelah pertama kali muncul di Wuhan, coronavirus baru telah memicu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi para eksportir pakaian Asia, yang mempekerjakan jutaan pekerja. Importir dan pabrik garmen kemungkinan harus berurusan dengan kekurangan , kenaikan bahan baku, dan kurangnya kapasitas . Seberapa cepat industri pakaian ini bisa pulih, tergantung pada kapan virus tersebut bisa dikendalikan.

Dilansir Nikkei, masalahnya dimulai pada bulan Februari dengan kekurangan pasokan kain karena virus tersebut menghantam sektor tekstil China senilai 250 miliar AS. Kemudian, tepat ketika Negeri Panda memulai kembali produksi, memberi harapan pabrik-pabrik garmen kembali ke jalurnya, permintaan runtuh ketika penguncian di seluruh dunia memaksa pengecer untuk menutup toko.

“Kami memiliki arus kas nol dan pembeli tidak menegakkan akhir kewajiban kontrak mereka,” kata Ken Loo, sekretaris jenderal Asosiasi Produsen Garmen di Kamboja. “Menurut Anda, berapa banyak perusahaan yang bisa bertahan lama dengan arus kas nol? Bahkan, maskapai paling sukses di dunia telah mengumumkan mereka akan bangkrut tanpa bantuan . Itulah yang sedang kita hadapi.”

Di Indonesia, lebih dari 3 juta bekerja di sektor ini dan permintaan telah menurun tajam, menurut Jemmy Kartiwa, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia. Sementara, di Vietnam, sebuah badan industri tekstil memperkirakan kehilangan sektor mereka dapat mencapai 467 juta dolar AS. Di Myanmar, tempat sedikitnya 20 pabrik berhenti di tengah kekurangan kain dan lebih banyak penangguhan, kehilangan pekerjaan tidak dapat dihindari.

Beberapa merk termasuk, H&M, dan pemilik Zara, Inditex, berkomitmen tetap membayar penuh untuk pesanan yang ada. Dalam sebuah pernyataan, H&M mengatakan bahwa ‘situasi ekstrem’ mengharuskan jeda pesanan baru, tetapi komitmen jangka panjang kepada pemasok tetap utuh. Namun, brand lain telah memicu klausa ‘force majeure’. Sebuah surat pembatalan yang dilihat Nikkei, konon dari C&A Eropa kepada para pemasok, menyatakan ‘situasi luar biasa’ telah ‘mengubah secara material, jika tidak menghancurkan’ prasyarat pesanan.

Edward Hertzman, penerbit publikasi industri tekstil, Sourcing Journal, mengatakan bahwa pembatalan sepihak seperti itu atau penulisan ulang kontrak, mengangkat potensi masalah hukum dan membuat pabrik dan kreditor mereka sangat terekspos. Menurutnya, akan ada domino yang sangat menakutkan. “Ini bukan tentang penutupan toko dan seberapa cepat mereka buka kembali. Ada banyak kerusakan yang akan dilakukan yang akan sulit diperbaiki,” katanya.

Advokat pekerja sendiri sudah mengutuk langkah tersebut. Human Rights Watch mendesak merk untuk tidak ‘meninggalkan pekerja pabrik’. Koordinator Clean Clothes Campaign, Christie Miedema, mengatakan bahwa brand memiliki tanggung jawab kepada mereka yang bekerja di sektor ini. “Mereka mendapat untung dari kerja murah ini selama beberapa dekade tanpa membayar jaminan sosial apa pun. Keuntungan itu harus dibayar kembali sekarang,” ujarnya.

Ada juga kekhawatiran yang berkembang atas penyebaran coronavirus secara lokal. Bangladesh dan Vietnam telah menerapkan lockdown, sedangkan di Kamboja, 91 pabrik garmen telah menangguhkan pekerjaan, dengan 61.500 pekerja terpengaruh. Mereka yang masih bisa bekerja takut akan tertular virus. Secara , krisis coronavirus jauh melebihi apa yang dihadapi industri garmen sebelumnya, sebagian karena tidak ada yang tahu berapa lama itu akan berlangsung.

Capital Economics yang berbasis di London memperkirakan ekonomi akan berkontraksi sebesar 2,5%. Menurut Gareth Leather, ekonom senior di Capital, itu menunjukkan tingkat pertumbuhan paling lemah sejak Perang Dunia Kedua, dan -negara penghasil tekstil sangat rentan. “Virus akan menendang ekonomi-ekonomi ini dengan sangat keras, terutama mengingat betapa mereka bergantung pada sektor ini,” tutur Leather.

Untuk Kamboja, pandemi itu merupakan pukulan kedua bagi sektor pakaian jadi senilai 10 miliar dolar AS, yang mempekerjakan lebih dari 800.000 orang, setelah Uni Eropa pada bulan Februari kemarin memutuskan untuk menangguhkan sebagian akses bebas bea ke blok tersebut karena masalah HAM. Sementara, pertumbuhan awal 2020 di Vietnam diprediksi turun dari 7% menjadi 4,9%, Myanmar menyusut dari 6,3% menjadi 3%, dan Indonesia turun dari 5% menjadi 2%.

“Ketergantungan besar ekonomi-ekonomi ini pada industri garmen berasal dari percepatan laju globalisasi sejak krisis keuangan global,” terang Sheng Lu, seorang profesor di departemen mode dan pakaian jadi Universitas Delaware. “Setelah Kamboja, Vietnam, Myanmar, Indonesia, dan Bangladesh hanyalah pemain kecil dalam perdagangan pakaian dunia pada krisis keuangan global 2009, saat ini mereka semua mempekerjakan ratusan ribu pekerja garmen. Taruhannya tidak pernah setinggi ini.”

Lu, yang telah menganalisis dampak Covid-19 pada perdagangan pakaian dalam tiga skenario, mengatakan bahwa China, sebagai produsen tekstil terbesar di dunia, akan terpukul paling parah ketika pembeli AS dan Uni Eropa membatalkan pesanan dalam volume besar. Dia memperkirakan, Vietnam, dengan pasar ekspor yang lebih beragam, memiliki fleksibilitas dan berada dalam ‘posisi yang lebih baik’.

Kehilangan pekerjaan akan sangat memukul, kata Lu, yang memperkirakan penurunan 10% dalam ekspor akan diterjemahkan menjadi setidaknya penurunan 4-9% dalam pekerjaan. Pasalnya, di negara-negara berkembang seperti Bangladesh dan Kamboja, sektor pakaian jadi satu-satunya pencipta pekerjaan terbesar bagi ekonomi lokal, terutama bagi perempuan.

Seberapa cepat industri pakaian bisa pulih, pertama tergantung pada kapan virus corona dapat dikendalikan, dengan kemajuan cenderung bervariasi dari satu negara ke negara yang lain. Jika permintaan membaik, Lu memperkirakan volume perdagangan pakaian jadi dunia bisa ‘bangkit kembali dengan cukup cepat’.

Loading...