Demi Belt and Road Initiative, China Ingin Yaman Stabil

Kapal Cargo Yaman - www.tellerreport.comKapal Cargo Yaman - www.tellerreport.com

SANA’A/BEIJING – Pada akhir November kemarin, utusan untuk PBB, Zhang Jun, mendesak internasional untuk menawarkan ‘bantuan ’ kepada Yaman, dengan mengatakan bahwa Beijing siap bekerja untuk rekonstruksi pasca-perangnya. Hal tersebut, menurut para ahli, merupakan usaha Beijing agar Belt and Road Initiative mendapatkan keuntungan jika Yaman mencapai stabilitas.

“Sebagian besar China dengan Eropa melewati Teluk Aden dan Laut Merah, sementara impor minyak China dari Timur Tengah dan Afrika melalui Bab el Mandeb dan Selat Hormuz,” kata I-wei Jennifer Chang, peneliti di Global Taiwan Institute di Washington, kepada TRT World. “Jadi, meski Yaman tidak memiliki kepentingan langsung dengan keseluruhan tujuan kebijakan luar negeri China, negara itu masih menempati posisi geostrategis dalam jalur pelayaran internasional.”

Chang menambahkan, China ingin perdamaian dan stabilitas dipulihkan di Yaman sehingga perusahaan-perusahaan asal Negeri Panda dapat melanjutkan kembali investasi dan perdagangan seperti sebelum 2011 dan berpotensi memainkan peran utama dalam rekonstruksi pasca-perang Yaman. Negeri Tirai Bambu juga ingin Yaman menjadi stabil untuk membuat negara tersebut memainkan peran yang lebih aktif secara dalam Belt and Road Initiative.

China sendiri secara historis memiliki hubungan baik dengan Yaman. Pada tahun 1956 silam, kedua negara menciptakan hubungan diplomatik formal yang menjadikan Yaman sebagai negara Semenanjung Arab pertama yang mengakui Republik Rakyat China (RRC) sebagai perwakilan sah negara tersebut. China juga adalah salah satu negara pertama yang melakukan investasi dan proyek pengembangan di Yaman sebelum penyatuan. Beijing melakukan proyek jalan sepanjang 266 kilometer antara Sana’a dan Hodeidah pada 1950-an.

Pada 2012 lalu, China National Corporation for Overseas Economic Cooperation (CCOEC) menandatangani kesepakatan untuk membangun tiga pembangkit berbahan bakar gas di negara itu. Setahun berikutnya, kedua negara sepakat untuk memperluas dua pelabuhan peti kemas di kota-kota selatan Aden dan Mokha, dengan total 508 juta AS.

Tidak berhenti di situ, China juga memainkan peran aktif dalam produksi minyak Yaman. Meskipun negara Semenanjung Arab ini memiliki sumber daya minyak lebih sedikit daripada tetangganya, perusahaan minyak milik negara China, Sinopec Corp, beroperasi di sektor eksplorasi dan produksi Yaman, menghasilkan 20.000 barel per hari, atau delapan persen dari total produksi Yaman. Namun, ketika perang saudara mencengkeram Yaman, Sinopec Corp meninggalkan negara tersebut.

“Setelah 2011, kami telah melihat China datang untuk mengembangkan beberapa kontak dengan Houthi, seperti mantan duta besar China untuk Yaman, Tian Qi, yang memainkan peran penting dalam mempertahankan jalur komunikasi dengan Houthi,” imbuh Chang. “Posisi resmi China adalah mendukung pemerintah Hadi sebagai pemerintah sah Yaman dan telah jelas menjalin hubungan yang lebih kuat dengan pemerintah Hadi daripada kelompok-kelompok oposisi.”

Menurut United States Institute of Peace, China telah menghitung bahwa Yaman adalah prioritas yang lebih tinggi untuk Arab Saudi daripada Iran, dan bahwa kesepakatan nuklir lebih penting bagi Teheran. Sementara itu, analis politik yang bermarkas di Yaman, Yaseen Tamimi, mengatakan bahwa para diplomat China telah melakukan ‘pertemuan rutin’ dengan semua pihak di negara yang dilanda perang itu ketika ambisi jangka panjang mereka adalah untuk mendapat manfaat dari lokasi geografis Yaman.

“China ingin menggunakan pelabuhan-pelabuhan ini untuk terhubung dengan rute perdagangan global yang dikenal sebagai Jalur Sutra, bersama dengan pelabuhan-pelabuhan yang telah menjadi di jalan ini, seperti Pelabuhan Gwadar Pakistan dan pelabuhan lain di Djibouti,” ujar Tamimi. “Pelabuhan Aden terletak di lokasi yang ideal dan dapat memperpendek jarak ratusan mil yang dibutuhkan oleh jalur pelayaran ketika Anda harus menggunakan pelabuhan transit utama di wilayah tersebut, seperti Pelabuhan Jebel Ali di UEA.”

Loading...