Cegah Krisis Mata Uang, IMF Mudahkan Akses Pinjaman ke Dolar AS

International Monetary Fund Managing Director Christine Lagarde - asia.nikkei.com

TOKYO – International Monetary Fund (IMF) dikabarkan akan memperkenalkan kerangka kerja baru yang memudahkan akses ke dolar AS tanpa memerlukan reformasi struktural untuk mencegah terjadinya krisis mata uang. Pengaturan ini terutama diperuntukkan guna mengatasi krisis rekening atau keruntuhan mata uang berkembang yang dipicu oleh capital flight yang parah.

Diberitakan , IMF akan mengevaluasi peminjam potensial dalam kondisi normal, dengan melihat seperti berjalan dan , dan membiarkan mereka bergabung dalam kerangka jika kondisi keuangannya dianggap cukup sehat. Namun, pinjaman tersebut akan dibatasi berdasarkan kontribusi modal masing-masing negara terhadap dana yang bersangkutan.

Pengaturan baru yang dikembangkan oleh IMF akan membantu negara-negara untuk meminjam greenback, terutama melalui pinjaman jangka pendek yang akan jatuh tempo dalam waktu setahun atau kurang. Aturan baru ini pada kebanyakan kasus tidak memerlukan stempel persetujuan dari bank sentral negara peminjam. IMF mengatakan bahwa pendekatan ini seharusnya dapat membantu meminimalkan gejolak .

Aturan tersebut diharapkan dapat diselesaikan secara resmi dalam kerangka kerja baru pada rapat dewan direksi. Aturan ini sendiri telah memasuki pembicaraan dengan negara-negara , termasuk Indonesia dan Filipina, mengenai penandatanganan. Namun, IMF tidak berencana mendekati China, yang telah memiliki aset dolar AS dengan jumlah berlimpah dalam cadangan devisa.

Sebelumnya, dengan dana yang kemungkinan kembali ke AS karena kebijakan pelonggaran moneter dari Federal Reserve, IMF khawatir bahwa arus keluar dari negara berkembang dapat membuat nilai tukar mata uang negara yang bersangkutan. Nah, anjloknya kurs mata uang ini berpotensi menimbulkan krisis keuangan karena beban utang luar negeri melonjak. Situasi bisa lebih parah jika spekulan memanfaatkan kondisi tersebut untuk mendapatkan keuntungan yang instan.

Terlepas dari kemajuan ekonomi yang dicapai sejak krisis keuangan global tahun 2008, ketakutan bahwa pasar keuangan di seluruh dunia dapat menjadi tidak stabil jika bank sentral lainnya, seperti Bank Sentral Eropa, bergabung dengan The Fed dalam pengetatan masih tetap membayangi. Nah, kekhawatiran ini dapat memacu beberapa negara untuk mempertimbangkan bergabung dalam kerangka baru IMF.