Cegah Diabetes, Indonesia Terapkan ‘Pajak Gula’ untuk Produk Berpemanis

Produk Berpemanis - marketeers.com

JAKARTA – Seiring kekhawatiran tumbuhnya obesitas di , berencana memperkenalkan baru pada tahun depan yang bertujuan mengurangi kandungan gula, garam, dan lemak dalam dan . Namun, keraguan masih timbul dalam upaya mengangkat gula untuk makan dan minuman olahan guna mengendalikan obesitas.

“Kami ingin mendorong industri kami agar rendah gula, rendah garam, dan rendah lemak,” kata Menteri , Nina Moeloek, seperti dikutip Nikkei. “Tahun depan, Perindustrian akan membuat peraturan baru terkait kandungan gula, garam, dan lemak. Orang-orang harus mengubah sikap mereka, Indonesia memiliki begitu banyak makanan lezat, tetapi tidak selalu sehat.”

Sebelumnya, di bulan Agustus 2017 lalu, negeri jiran, Singapura, melalui Perdana Menteri Lee Hsien Loong telah mencerca minuman sarat gula dalam sebuah pidato di televisi. Omelan Lee ini mendorong tujuh minuman, termasuk Coca-Cola, untuk berkomitmen membatasi kandungan gula maksimal 12 persen untuk semua minuman mereka yang dijual di negara tersebut pada tahun 2020 mendatang.

Selain itu, pajak gula juga akan dipertimbangkan diberlakukan di Singapura, yang juga bakal diimplementasikan di negara-negara Eropa seperti Perancis, Irlandia, dan mungkin Inggris. Namun, usulan kelompok konsumen di Australia untuk memperkenalkan 20 persen kandungan gula dalam produk minuman telah ditentang oleh para industri minuman di banyak negara.

Negara tetangga lainnya, Malaysia, malah tidak yakin akan efektivitas pajak gula sebagai alat untuk mengurangi konsumsi gula. Pada tahun 2013 lalu, pemerintah negara tersebut telah menghapus subsidi konsumen untuk gula, yang menyebabkan kenaikan harga makanan dan minuman yang mengandung gula. “Kami biasa mensubsidi gula, lalu kami hapus dan biaya gula naik,” ujar Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Seri Subramaniam Sathasivan.

Untuk saat ini, Malaysia sedang menunggu untuk melihat apakah pajak gula di tempat lain akan menyebabkan konsumsi gula berkurang. Menurut Sathasivan, jika ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa pajak mengurangi konsumsi gula, mereka harus tahu pada tingkat berapa, dan mungkin mereka akan mempertimbangkannya.

Seperti Singapura dan negara-negara lain di kawasan ASEAN, Malaysia sedang berjuang dengan obesitas atau ‘penyakit tidak menular’ seperti diabetes. Pada bulan Juni lalu, Asian Development Bank (ADB) memperkirakan bahwa 40,9 persen orang dewasa di Asia dan Pasifik mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, sementara pada tahun 2015, survei Malaysian National Health and Morbidity memprediksi bahwa seperlima orang dewasa Malaysia menderita diabetes pada tahun 2020.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan Oktober lalu melaporkan bahwa memotong konsumsi gula dapat membantu mencegah diabetes, selain pengurangan konsumsi lemak dan garam dalam makanan olahan. Di samping itu, pilihan gaya hidup orang-orang seputar diet dan olahraga juga merupakan kunci pencegahan untuk kelebihan berat badan.

Loading...