Cadangan Devisa Cetak Rekor Tertinggi, Rupiah Dibuka Menguat

Rupiah - www.konfrontasi.comRupiah - www.konfrontasi.com

JAKARTA – Rupiah mampu melanjutkan penguatan pada pembukaan perdagangan Selasa (8/9) pagi setelah Indonesia meraih rekor tertinggi. Menurut Index, mata uang Garuda dibuka naik 20 poin atau 0,14% ke level Rp14.720 per dolar AS. Sebelumnya, spot ditutup menguat 10 poin atau 0,07% di posisi Rp14.740 per dolar AS pada akhir Senin (7/9).

Kemarin, Bank Indonesia mengumumkan cadangan devisa dalam negeri hingga akhir Agustus 2020 mencapai angka 137 miliar dolar AS, naik 1,9 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya yang sebesar 135,1 miliar dolar AS. Setara dengan pembiayaan 9,4 bulan atau 9 bulan dan utang luar negeri , cadangan devisa tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

“Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas markroekonomi,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko. “Peningkatan cadangan devisa pada Agustus 2020 antara lain dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan devisa migas.”

Selama Agustus 2020, pemerintah memang beberapa kali melakukan penarikan pinjaman. Pada 25 Agustus misalnya, pemerintah melelang tujuh seri surat utang negara (SUN), dengan total penawaran yang masuk senilai Rp78,34 triliun dan yang dimenangkan sebesar Rp22 triliun. Kemudian, pada 27 Agustus, melakukan private placement kepada Bank Indonesia senilai Rp16,8 triliun. Ini merupakan kedua untuk pembiayaan public goods dalam pemulihan nasional.

“Rupiah masih berpotensi melanjutkan penguatan meskipun di rentang yang cenderung sempit,” kata Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, dilansir dari Bisnis. “Prospek ekonomi AS yang tidak begitu baik sehingga membuat memberikan sinyal kuat untuk menerapkan kebijakan rendah untuk waktu yang sangat lama, telah memberikan kekuatan terhadap rupiah.”

Meski demikian, Ibrahim menambahkan, kekhawatiran terhadap resesi di Indonesia juga telah membayangi mata uang Garuda. Apalagi, pemerintah DKI Jakarta terus memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat prospek pertumbuhan ekonomi dalam negeri akan cenderung stagnan. Hal itu dikarenakan adanya penurunan konsumsi masyarakat dan pertumbuhan investasi yang cenderung flat.

Loading...