Blockchain Berpotensi Jadi Solusi untuk Atasi Krisis Kepercayaan dalam Perdagangan Asia

Blockchain

Kini perbincangan seputar penggunaan blockchain sedang banyak dibicarakan. Blockchain menjadi yang mendasari seperti untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan . Akan tetapi potensi terbesarnya justru terletak pada elemen kepercayaan yang menjadi dasar dari segala .

Pada dasarnya, blockchain adalah buku besar (general ledger) digital yang merekam transaksi yang tercatat di jaringan para penggunanya dalam rantai ‘bebas-gangguan’ yang dapat dilihat oleh siapa saja. Dengan sistem tersebut, blockchain berusaha menghilangkan tugas perantara yang juga menjadi ‘single point of failure’ dengan cara mendistribusikan buku besar yang mencatat transaksi ke dalam jaringan komputer yang terlibat, di mana semua buku besar tersebut sifatnya identik.

“Jika semua jenis keuangan, hukum, dan produk dapat dilindungi dari manipulasi atau penyimpangan, maka ini akan memberikan tingkat kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memungkinkan aktivitas ekonomi yang lebih besar,” ujar Andy Yee, peneliti teknologi blockchain di University College London Centre, seperti dilansir Nikkei.

World Economic Forum telah memprediksi bila pada tahun 2027 mendatang sekitar 10% produk domestik bruto (PDB) global akan disimpan menggunakan blockchain. Langkah ini tentunya akan menguntungkan industri tradisional dan digital.

September 2016 lalu Barclays juga melaporkan kesepakatan pembiayaan perdagangan berbasis blockchain pertama untuk perdagangan keju dan mentega senilai USD 100.000. Langkah yang sama diikuti Bank Commonwealth Australia dan Wells Fargo yang menggunakan blockchain untuk mentransfer kepemilikan dan pembayaran.

“Blockchain mungkin menjadi solusi untuk mengatasi krisis kepercayaan. , sebagai jantung dinamis ekonomi , adalah tempat yang tepat bagi blockchain untuk memberdayakan perdagangan,” imbuh Yee.

Salah satu hambatan terbesar di dalam Asia adalah karena rendahnya tingkat kepercayaan. Hal itu yang menyebabkan aktivitas bisnis di Asia cenderung menghindari risiko dengan menjaga rantai pasokan hanya dengan entitas yang dikenal sehingga cenderung lambat membangun hubungan bisnis baru.

Meski demikian, Asia sudah mulai menyadari potensi teknologi baru tersebut. Beberapa pusat keuangan utama seperti di Singapura, Hong Kong, hingga China kini mulai mempertimbangkan mengadopsi teknologi blockchain. Sayangnya perkembangan blockchain bukan tanpa hambatan. Salah satunya, sektor industri yang berbeda di seluruh rantai pasokan perlu beradaptasi menerima teknologi baru.

“Blockhain melampaui batas-batas nasional secara alamiah, sehingga kerjasama lintas batas antara regulator sangat penting. Standar internasional baru diperlukan untuk mendukung peluncuran teknologi blockchain. Yang lebih penting lagi, data digital adalah inti dari blockchain. Asia membutuhkan peraturan dan protokol untuk memastikan arus data yang bebas,” tandas Yee.