Bisnis Donald Trump di Asia Sarat Konflik Kepentingan?

Bisnis Donald Trump - asia.nikkei.com

JAKARTA/NEW YORK – Sejak dilantik menjadi , pernah mengatakan bahwa dirinya bakal melepaskan bisnisnya di sektor real estate, terutama di , untuk kemudian dikelola oleh anak-anaknya. Meski Trump ingin memisahkan dengan , namun yang jadi pertanyaan sekarang adalah tentang konflik kepentingan.

Pada tanggal 19 Januari 2017 lalu, sebelum dirinya dilantik, Trump sempat melakukan makan siang bersama taipan media asal Indonesia, Hary Tanoesoedibjo, di sebuah restoran kelas atas di New York City. Hary Tanoe, yang memimpin MNC Group, merupakan konglomerat media yang mencakup Mediacom, dengan di real estate. Pada tahun 2015, grup ini setuju dengan Presiden AS untuk membangun resor dengan merek Trump di Bali dan Lido (selatan Jakarta).

Memang, tidak diketahui apa yang dibahas antara Hary Tanoe dengan Trump ketika makan siang itu. Namun, percakapan mungkin telah beralih ke topik selain bisnis. Seperti diketahui, Hary Tanoe saat ini memang memiliki ambisi politik, yang dibuktikan dengan pembentukan Partai Perindo. Ini dan tanda-tanda lain dari hubungan dengan Trump telah memicu segala macam spekulasi di ibukota Indonesia.

Trump mengatakan bahwa sebagai presiden, ia akan mundur dari manajemen sehari-hari kerajaan bisnisnya, membiarkan anak-anaknya mengambil alih untuknya. Tetapi, urusan keluarganya di Asia, rumah bagi banyak taipan bisnis dengan koneksi politik yang kuat, menambah ambiguitas sekitar pemisahan antara kerajaan komersial dan urusan negara.

Kecurigaan konflik kepentingan akan selalu menghampiri usaha Trump di Asia. Sejak tahun 2006, Trump Organization belum berhasil selama lebih dari satu dekade untuk mendaftarkan namanya sebagai merek dagang di China. Pada September 2016 lalu, pemerintah China memutuskan bahwa merek dagang orang itu tidak sah, namun pada bulan Januari 2017, aplikasi Trump Organization telah disetujui. Beberapa pengamat Amerika melihat ini sebagai upaya China untuk memengaruhi Trump, menyebutnya risiko untuk AS.

Trump mengatakan bahwa bisnis keluarganya tidak akan memulai perkembangan baru di luar negeri saat ia berada di kantor. The Associated Press melaporkan bahwa pembicaraan tentang proyek-proyek potensial di beberapa negara, termasuk India, telah dibatalkan. Tetapi, perkembangan bisnis diharapkan untuk bergerak maju. Dapatkah kesepakatan administrasi Trump cukup untuk menjalin relasi dengan negara-negara di mana ia memiliki kepentingan bisnis?

Loading...