Co-living Nge-tren di Asia Tenggara, Apakah Bisnis yang Menjanjikan?

Bisnis Properti Co-living - medium.comBisnis Properti Co-living - medium.com

UBUD – Dengan proyeksi yang menunjukkan hingga satu miliar orang akan bekerja dari jarak jauh pada tahun 2035 mendatang, co-living (communal living), demikian sebutan tren ini, semakin menarik perhatian di -kota di seluruh dunia. Sayangnya, di negara di kawasan Tenggara, meski konsep hunian ini telah , tersebut tidak terlalu signifikan karena banyaknya pasokan daripada permintaan.

Dilansir Nikkei, melayani pergerakan pekerja lepas yang didominasi asal Barat, pengusaha, dan pekerja kreatif, yang dikenal sebagai nomaden , yang memungkinkan tinggal bersama di wilayah ini biasanya memiliki kurang dari 30 kamar dan dijalankan oleh nomaden digital ‘senior’ yang tidak pernah pulang. KoHub misalnya, ruang bersama dan rekan kerja berisi 16 kamar di Koh Lanta, Thailand, mendapat lompatan ketika dibuka pada tahun 2014.

“Saya telah datang ke Koh Lanta selama tujuh atau delapan tahun, bekerja dari jarak jauh sebagai pengembang situs web kapan pun saya bisa mendapatkan sinyal Wi-Fi yang bagus,” kata pendiri KoHub, James Abbot, dari Inggris. “Saya mencoba bergaul dengan penyelam, tetapi itu tidak berhasil. Jadi, saya berpikir bagaimana jika saya membuka tempat di mana orang-orang seperti saya membuat teman-teman yang berpikiran sama.”

Pada tahun-tahun berikutnya, tren hidup bersama muncul seperti jamur di Negeri Gajah Putih. Lusinan properti serupa sekarang beroperasi di pusat nomaden digital, Bangkok dan Chiang Mai, sementara ratusan konvensional lainnya di seluruh negara tersebut menggunakan kata kunci ‘hidup bersama’ sebagai langkah promosi kepada pelanggan.

Pasar co-living Thailand mungkin sekarang sudah jenuh. Namun, ceruk tersebut masih menikmati pertumbuhan yang kuat di Bali, sebuah pulau Indonesia yang mendapat peringkat di antara tempat-tempat paling ramah nomaden digital di dunia oleh Nomad List, sebuah situs web yang memuat lebih dari 2.300 tujuan global.

Outpost Ubud Penestanan dibuka pada pertengahan Januari kemarin di Ubud, sebuah tempat wisata yang terkenal dan sempat dijadikan latar film ‘Eat, Pray, Love’. Properti ini memiliki 24 kamar modern dengan balkon atau teras, ruang kerja bersama yang apik di atap, kolam renang, dapur, restoran, dan dek. Dibangun dengan dana awal 1,3 juta dolar AS, ini adalah ruang hidup bersama ketiga yang dibuka oleh Outpost di Bali dan yang keempat di ASEAN setelah Outpost Phnom Penh tahun lalu.

“Hunian di Bali sangat kuat. Orang-orang kreatif suka tinggal bersama orang-orang kreatif lainnya sepanjang tahun sehingga kami tidak memiliki volatilitas rendah yang mungkin diderita oleh hotel-hotel lain di pulau itu,” tutur pendiri Outpost, David Abraham. “Model kami berfungsi karena kami berinvestasi pada produk yang dicari orang, yakni ruang kerja ber-AC, restoran bagus, furniture Swedia. Kami menyesuaikan properti kami untuk mendorong para tamu menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kami.”

Outpost Ubud Penestanan masih menawarkan satu malam melalui berbagai situs pemesanan hotel. Namun, Abraham mengatakan, properti itu memiliki kuota pada jumlah kamar yang tersedia untuk menginap satu malam dan mereka berupaya menyediakan opsi tinggal untuk jangka panjang. “Kami bukan pendatang baru di Bali. Kami telah hadir selama bertahun-tahun untuk dikembangkan, dan itu akan terus tumbuh,” tambah Abraham.

Sementara itu, di Koh Lanta, Abbot berencana untuk menurunkan peringkat sisi akomodasi KoHub tahun ini dan fokus pada rekan kerja. Pasalnya, mereka mengalami penurunan tingkat hunian pada tahun lalu karena pelanggan yang kembali masih menggunakan fasilitas rekan kerja mereka, tetapi tidak tinggal bersama. Mereka malah menemukan tempat mereka sendiri.

“Para investor harus berhati-hati ketika akan terjun ke bisnis ini,” jelas Abbot. “Ada pembicaraan tentang angka yang gila, tetapi faktanya hanya ada sekitar 20.000 nomaden digital di wilayah ini. Ini tidak lagi tumbuh secara besar-besaran dan pasokan melebihi permintaan karena begitu banyak orang berusaha untuk terlibat. Gagasan tentang properti yang hidup bersama cukup menarik, tetapi kebanyakan orang tidak menyadari betapa sulitnya membuat bisnis ini berjalan.”

Loading...