Tanpa Operasi, Berapa Biaya Terapi untuk Penderita Skoliosis?

Terapi untuk Penderita Skoliosis - lifestyle.okezone.comTerapi untuk Penderita Skoliosis - lifestyle.okezone.com

Skoliosis adalah kondisi kelainan pada rangka berupa lengkungan di tulang belakang. Secara umum, scoliosis dapat disembuhkan dengan dua cara, yakni operasi dan non-operasi. Saat ini munculnya prosedur tanpa operasi menjadi harapan baru untuk skoliosis karena dinilai bisa mengoreksi kurva lengkungan tulang dengan derajat besar.

“Umumnya terapi nonoperasi yang dilakukan yaitu penggunaan brace, exercise, dan fisik dengan alat fisioterapi untuk mengurangi nyeri. Brace sangat berperan mengoreksi kurva, terutama bagi pasien yang memiliki kurva lebih dari 30 derajat dan ditambah melakukan exercise sesuai dengan bentuk kurva, bukan exercise konvensional,” kata Dr. dr. Ninis Sri Prasetyowati, SpKFR, konsultan ahli dari Klinik Scoliosis Care, seperti dilansir Viva.

Skoliosis sendiri belum bisa dipastikan apa penyebabnya. Namun kemungkinan bisa dialami karena riwayat penyakit dari orang tua, kecelakaan, hingga kebiasaan buruk dalam beraktivitas seperti terbiasa menaruh dompet di saku celana belakang, duduk dengan kaki menyilang, hingga menggunakan tas selempang.

Sementara itu, Ahli fisiologi dan anatomi dari Klinik Scoliosis Care, Labana Simanihuruk, B.Sc menambahkan jika terapi non-operasi yang perlu dilakukan adalah dengan menggunakan penyangga (brace) dan latihan fisik dengan alat fisioterapi untuk mengurangi rasa nyeri. “Brace secara klinis telah terbukti dapat mengurangi lengkung atau kurva pada kasus umum skoliosis, mengurangi rasa sakit, memperbaiki postur tubuh, memperlambat kurva, serta mensejajarkan bahu dan pinggang,” paparnya.

Brace sendiri biasanya mampu mengoreksi lengkungan tulang belakang pada pasien, terutama yang lengkungannya lebih dari 30 derajat. Penggunaan brace pun tidak untuk selamanya, melainkan hingga jangka waktu tertentu. “Kalau waktu, perbaikan itu kita enggak pernah bisa tahu secara pasti karena setiap orang berbeda secara genetik, secara kebiasaan, dan secara niat juga. Tapi patokan kita adalah dua tahun,” sambungnya.

Diagnosis bracing dilakukan dengan cara memindai tubuh secara akurat dengan menggunakan alat 3D BraceScan. Alat tersebut menggabungkan pemindai laser full body 3D, sinar-X, dan foto postur tubuh. “Setiap brace dirancang khusus untuk individu menggunakan ‘Computer Aided Design’ dan kemudian dibuat dengan ‘Computer Aided Manufacture’ (CAM),” tutur Cabana.

atau terapi scoliosis sendiri cukup , tergantung di klinik mana pasien melakukannya. Di salah satu klinik yang ada di kawasan Jakarta Barat, biaya terapi scoliosis kabarnya berkisar mulai Rp30 jutaan.

Loading...