Biasa Diolah Jadi Butter Cream, Ini Harga Mentega Putih Palmia

Mentega putih yang diolah menjadi Butter CreamMentega putih yang diolah menjadi Butter Cream - www.bettycrocker.com

Selain margarine dan mentega, dalam dunia baking juga dikenal istilah mentega putih. Bagi para pemula mungkin masih bingung seperti apa yang dimaksud dengan mentega putih itu? Mentega putih atau yang sering disebut shortening biasanya berasal dari lemak hewani, lemak nabati, atau campuran dari keduanya. Bedanya, mentega putih umumnya mempunyai kandungan lemak penuh atau tak ada kandungan air di dalamnya.

Sesuai namanya, mentega putih berwarna putih, tidak berbau, dan memiliki tekstur yang lebih padat dibandingkan mentega atau margarin. Titik leleh mentega putih pun lebih tinggi dari margarine, yaitu sekitar 40-44 derajat celsius. Tak hanya dalam bentuk padat, shortening juga ada yang berwujud cair. “Di Indonesia, shortening kerap digunakan sebagai bahan pembuatan butter , campuran dalam adonan . Ada juga mentega putih yang khusus digunakan untuk menggoreng,” demikian seperti dilansir Femina.

Merk mentega putih di cukup banyak, salah satu yang cukup populer dan sudah tersertifikasi halal adalah merek Palmia. Margarin putih Palmia biasanya tersedia dalam ukuran kemasan 15 kg yang dengan Rp 282.500. Ada pula mentega putih Palmia kemasan repack 500 gram yang dibanderol seharga Rp 10 ribuan.

Walaupun baik untuk digunakan membuat atau cake, penggunaan margarin untuk menggoreng pada suhu tinggi disebut-sebut berpotensi merusak asam lemak esensial omega 3 dan 6 termasuk vitamin yang terkandung di dalamnya.

“Omega 3 dan 6 dibutuhkan untuk pertumbuhan sel otak. Ada hubungan dengan kecerdasan anak juga sehingga asam lemak esensial yang bisa ditemukan pada minyak atau margarin ini sangat penting. Namun khususnya margarin, kandungan ini bisa hilang bila dipanaskan terlalu tinggi karena mengubah komposisi lemak,” ujar Ahli Gizi Masyarakat dari Departemen Epidemiologi Fakultas Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, MPH, seperti dilansir Liputan6.

Ratna menjelaskan, apabila margarin dipanaskan dengan suhu yang terlalu tinggi justru bisa mengubahnya jadi trans-fat atau lemak jenuh, sehingga lebih baik digunakan dengan takaran yang sedikit ketika menumis atau dioleskan pada roti. “Dioles saja di roti. Jangan digunakan untuk deep fried. Kalaupun untuk baking, pastikan suhunya tidak terlalu tinggi untuk mempertahankan kandungan di dalamnya,” tuturnya.

Loading...