Bertahan dari Efek RUU Pajak AS, Rupiah Dibuka Rebound

rupiah - www.tribunnews.com

Efek pengesahan RUU AS ternyata hanya berdampak sementara bagi mata uang negara berkembang seperti . Seperti dilaporkan Index, mata uang Garuda mengawali hari ini (5/12) dengan 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.511 per AS. Sebelumnya, spot sempat ditutup melemah tipis 4 poin atau 0,03% di posisi Rp13.527 per AS pada akhir dagang Senin (4/12) kemarin.

Pengesahan RUU pajak oleh Senat AS memang menyebabkan pelaku khawatir akan keluarnya dana asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Pasalnya, dengan pemotongan pajak korporasi dari semula 35% menjadi 15% berpotensi membuat asing lebih tertarik menanamkan mereka kembali ke Paman Sam. Hal tersebut pun dapat berujung pada instabilitas rupiah terhadap dolar AS.

“Pengesahan kebijakan pajak AS ini hanya berdampak sementara terhadap rupiah karena pasar terlihat sudah mengantisipasi hal tersebut sejak lama,” jelas Ekonom BCA, David Sumual. “Sejak isu tersebut muncul, tren mata uang negara berkembang memang relatif melemah terhadap greenback. Tetapi, kalau sudah benar-benar disahkan, mungkin akan ada sedikit reli karena sudah sesuai dengan ekspektasi pasar dan ada potensi terjadi volatilitas pada rupiah.”

David menambahkan bahwa pemangkasan tarif pajak memang bisa membuat ekonomi Paman Sam semakin terangsang, dan berimbas pada kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat. Meski demikian, hal tersebut tidak akan membuat kurs rupiah terganggu untuk jangka panjang sebab Bank Indonesia sudah memiliki perjanjian bilateral maupun multilateral terkait swap arrangement sebagai pertahanan lapis kedua (second line defense).

Senada, Analis Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra, menuturkan bahwa Senat AS yang telah meloloskan RUU reformasi pajak membuat tekanan dolar AS relatif terbatas. Hal tersebut dikarenakan Senat dan DPR AS masih harus melakukan rekonsiliasi akibat adanya perbedaan RUU kedua belah pihak dan berlanjut dengan voting di Kongres AS.

Di samping itu, inflasi domestik pada bulan November 2017 yang masih terkendali, yaitu berada di angka 0,2%, mendapatkan respon positif dari pasar. Agus pun memperkirakan bahwa pada perdagangan Selasa ini, mata uang Garuda berpotensi mengalami apresiasi terbatas dan bergerak di kisaran Rp13.490 hingga Rp13.550 per dolar AS.

Loading...