Berstatus Darurat COVID-19, Ekonomi Jepang Kuartal II 2020 Bakal Turun

Jepang Darurat COVID-19 - www.indozone.idJepang Darurat COVID-19 - www.indozone.id

TOKYO – Selasa (7/4) kemarin, Jepang resmi menetapkan keadaan darurat terkait pandemi . Deklarasi yang disampaikan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, tersebut lantas membuat banyak ekonom memangkas perkiraan pertumbuhan Negeri Sakura selama tiga bulan, mulai April hingga Juni, melihat penurunan dua digit secara tahunan dan rebound yang lambat seperti sebelum krisis.

Seperti dilansir dari Nikkei, J.P. Morgan Securities memperkirakan ekonomi akan menyusut 17% di kuartal ini, BNP Paribas Securities melihat penurunan 16%, sedangkan Dai-ichi Life Research Institute dan Meiji Yasuda Research Institute memproyeksikan kontraksi lebih dari 10%. Goldman Sachs adalah yang paling bearish, mengantisipasi penurunan hingga 25%.

Status lockdown sebagian juga tampaknya akan menjerumuskan Jepang ke dalam resesi, yang secara teknis didefinisikan sebagai dua kuartal berturut-turut dari kontraksi. Ekonomi sudah menyusut 7,1% pada kuartal keempat 2019 karena kenaikan pajak pada Oktober. Kemudian, perkiraan kuartal pertama dari 34 ekonom sektor swasta yang disurvei oleh Japan Center for Economic Research adalah berkontraksi 2,89% secara riil.

Pasalnya, beberapa wilayah yang ditunjuk sebagai darurat adalah pusat ekonomi terbesar , seperti Tokyo, Kanagawa, Osaka, dan Fukuoka. Bersama-sama, mereka menyumbang 46% dari PDB nasional. Meski kereta dan jalan-jalan tetap beroperasi, namun department store, bioskop, dan pusat perbelanjaan tutup sejak Rabu (8/4). Ekonom mengatakan, konsumsi swasta akan menjadi korban terbesar karena penduduk di wilayah lockdown akan diminta untuk menghindari acara yang tidak perlu dan makan malam dengan orang lain.

SMBC Nikko Securities, bank yang berafiliasi dengan Sumitomo Mitsui Financial Group, memperkirakan ekonomi akan menyusut pada tingkat tahunan 14,8% selama periode April-Juni dibandingkan kuartal sebelumnya. Junichi Makino, kepala ekonom pialang, mengatakan, perhitungan dilakukan dengan asumsi bahwa penjualan pada bulan April pada dasarnya akan turun ke nol di restoran, dealer mobil, serta pengecer alat, furnitur, dan pakaian.

“Investasi bisnis juga akan melambat karena perusahaan konstruksi diharapkan untuk menghindari proyek besar yang melibatkan banyak pekerja, dan pengiriman peralatan komputer kemungkinan akan menunggu sampai kantor kembali normal,” tutur Makino. “Ekspor diperkirakan akan turun sekitar 50%, karena ekspor utama, terutama AS, sebagian besar masih terkunci.”

Setelah penutupan selama sebulan, pemulihan sebagian akan tergantung pada seberapa baik virus dapat ditangani. Sebagian lainnya tergantung pada seberapa cepat langkah-langkah ekonomi yang diumumkan oleh PM Shinzo Abe. Pendanaan untuk program stimulus pertama-tama harus disetujui oleh parlemen Jepang.

Pemerintah berharap untuk mulai membagikan uang tunai pada bulan Mei untuk usaha kecil dan tangga yang telah terkena dampak penutupan. Hideo Kumano, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research, mencatat bahwa jumlah tangga yang memenuhi syarat akan mencapai 13 juta, seperempat dari total negara, dan itu akan menjadi tugas logistik yang sangat besar.

“Konsumen akan mulai bosan tinggal di rumah. Setelah wabah menjadi terkendali, mereka akan mulai belanja. Namun, beberapa orang, terutama lansia, akan tetap berhati-hati untuk keluar,” kata kepala ekonom di Meiji Yasuda Research Institute, Yuichi Kodama. “Jika ekspor ke AS pulih, maka investasi bisnis juga akan bangkit, karena mereka cenderung bergerak bersama.”

Loading...