Berkat Dana Pensiun & Asuransi, Pasar Obligasi Indonesia Tetap Stabil

sri-mulyani-indrawati

Pada (3/1) lalu, Sri Mulyani Indrawati memutus hubungan dengan JPMorgan yang selama ini menjadi dealer primer di . Pemutusan kontrak ini dilakukan usai bank asal Amerika ini menurunkan peringkat menjadi ‘underweight’ sebagai respons atas ketidakpastian kebijakan yang akan diambil oleh presiden terpilih AS, Donald Trump.

terbuka untuk kritik, tapi JPMorgan memangkas rekomendasinya tanpa penilaian yang kredibel,” ujar Menkeu Sri Mulyani Indrawati.

Untuk sebuah yang mata uang lokalnya sangat bergantung pada ‘kebaikan orang asing’ dengan hampir 40% dari obligasi domestik dipegang asing, maka keputusan pemerintah ini dianggap kurang bijaksana. Terutama ketika sentimen terhadap negara berkembang saat ini semakin memburuk.

Menyusul kemenangan Trump pada (8/11/2016) lalu indeks dolar meningkat 4,3% dan memukul mata uang negara berkembang. Pasar obligasi domestik negara berkembang telah mengalami arus yang cukup berat selama 2 bulan terakhir. Menurut JPMorgan, investor asing menjual USD 10 miliar dari obligasi lokal di kawasan pada bulan November.

Malaysia dengan pangsa tertinggi utang dalam negeri yang dimiliki orang asing di negara berkembang Asia berada pada tingkat 48%. Indonesia sebagai pangsa tertinggi kedua juga menderita arus keluar yang besar dengan menjual USD 1,7 miliar obligasi lokal dibandingkan arus masuk USD 1,2 miliar pada September. India dan Korea Selatan pun senasib.

Berdasar laporan dari IMF dan World Bank, bank lokal mendominasi kepemilikan utang lokal di banyak pasar negara berkembang dan bahwa dana pensiun dan perusahaan asuransi secara bertahap menjadi sumber yang lebih penting dari pendanaan. Adanya dana pensiun Asia dan asuransi membantu menstabilkan pasar utang lokal dengan mengambil momen di tengah penurunan tajam dalam pembelian obligasi domestik oleh pihak asing.

Menurut JPMorgan, orang asing membeli USD 10,6 miliar obligasi lokal Asia selama Januari-November 2016, sekitar setengah dari jumlah yang dibeli selama 2015. Dukungan yang kuat dari lembaga dalam negeri adalah salah satu alasan utama mengapa imbal hasil obligasi di Asia tetap relatif rendah meski kondisi pasar mengalami penurunan tajam.

Ketahanan pasar obligasi lokal Indonesia terhadap goncangan eksternal meningkat awal tahun lalu ketika pemerintah memerintahkan dana pensiun dan asuransi untuk secara bertahap meningkatkan porsi utang dalam negeri pada portofolio investasi mereka menjadi sekitar 30%.

“Hal ini mungkin menjelaskan mengapa Kementerian Keuangan di Indonesia merasa mampu untuk menghukum JPMorgan karena telah merendahkan saham negara. Namun menyia-nyiakan kebaikan orang asing dapat membawa risiko yang besar saat ini,” ujar Nicholas Spiro, konsultan makroekonomi dan properti di Lauressa Advisory London.