Beri Insentif, Thailand Pimpin ‘Balapan’ Kendaraan Listrik di Asia Tenggara

Electric Vehicles - www.thailandnews.co

-negara di kini tengah berlomba-lomba untuk memproduksi bertenaga (electric vehicles) . Thailand tampaknya memimpin dengan memberikan insentif bagi dan untuk meningkatkan kendaraan listrik di negara mereka. Sementara, Malaysia mencoba menggaet produsen China untuk mempercepat adopsi mobil listrik dengan tenaga baterai.

Seperti dikutip Nikkei, riset yang dilakukan FT Confidential memaparkan bahwa di atas kertas, Thailand tampaknya memimpin dalam ‘balapan’ ini. Pasalnya, negara ini memiliki kemampuan manufaktur mobil paling maju di Asia Tenggara, dengan kapasitas produksi 3,7 juta unit per tahun, di depan Indonesia dengan 2,2 juta unit per tahun dan Malaysia yang memproduksi 950.000 unit per tahun. Selain itu, ada lebih banyak merek mobil dan pemasok suku cadang yang beroperasi di Thailand daripada di tempat lain di kawasan ini, yang mendapatkan gelar Detroit of the East.

Kecepatan pengembangan kendaraan listrik akan sangat dipengaruhi oleh tiga investor otomotif terbesar Thailand, yaitu Toyota, Isuzu, dan Honda. Sayangnya, tidak ada yang menunjukkan minat untuk mengembangkan BEV (battery-only electric vehicles) atau PHEV (plug-in hybrid electric vehicle) di wilayah ini. Toyota berencana berinvestasi dalam produksi mobil hybrid di Thailand, sementara Honda diperkirakan akan melakukan hal yang sama untuk mengajukan insentif hibrida dengan batas waktu hingga akhir tahun ini.

Namun, insentif tidak menjamin kesuksesan. Malaysia mengakhiri keringanan pajak untuk kendaraan listrik pada tahun 2014 setelah gagal meyakinkan produsen untuk berinvestasi. Negara tersebut telah meninggalkan komitmen untuk membebaskan bea masuk pada 100 mobil Tesla, sebuah rencana yang diumumkan oleh Perdana Menteri Najib Razak saat berkunjung ke markas besar Tesla di California tahun lalu.

Sebaliknya, pemerintah Malaysia sekarang lebih suka berurusan dengan produsen secara terpisah, sebuah strategi yang tampaknya bekerja dengan perusahaan China. Beijing Auto International Cooperation, pembuat EV terbesar kedua di China, meluncurkan model pertamanya untuk pasar Malaysia, EV200, November lalu. Mobil ini memiliki jangkauan 200 km dan diperkirakan akan mulai dijual paling cepat pada tahun depan.

Kemitraan dengan perusahaan China juga berarti akses ke baterai. Menurut Yano Research Institute, sebuah perusahaan riset pasar asal Jepang, China saat ini menguasai sekitar 75 persen pasar global untuk solusi elektrolit, komponen kunci dari baterai lithium-ion. Namun, ini bergantung pada daya tarik merek China, begitu juga Proton, kepada konsumen Malaysia. Pangsa pasar Proton telah menyusut cukup jauh, hanya 14 persen tahun lalu, turun dari 32 persen di lebih dari satu dekade yang lalu.

Sementara, di Indonesia, pasar mobil terbesar di kawasan ini, telah mengumumkan rencana untuk melarang penjualan mobil berbahan bakar bensin dan diesel pada tahun 2040. Kabinet di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo akan merancang sebuah kebijakan yang akan mengurangi pajak barang mewah dan tarif impor kendaraan listrik, dari rata-rata 50 persen sampai 5 persen pada awal tahun depan. Pengecualian ini hanya akan berlaku untuk produsen dengan rencana jangka panjang untuk memproduksi kendaraan listrik di Tanah Air.

Dari sisi customer recognition, ada dua pemain BEV global yang mendapat manfaat dari kehadiran signifikan di kawasan ini, yaitu Chevrolet dan Nissan. Yang terakhir, yang populer di kalangan rata-rata 8 persen pembeli mobil di lima negara ASEAN yang telah disurvei, telah menyatakan minatnya untuk memproduksi dan menjual kendaraan listrik di Asia Tenggara jika insentif pemerintah diberlakukan.

Yang terpenting, perlombaan antar-negara ASEAN untuk menarik investasi dalam produksi kendaraan listrik domestik akan ditentukan oleh seberapa cepat konsumen mengadopsi teknologi baru, yang pada gilirannya bergantung pada seberapa cepat pemerintah menerapkan infrastruktur seperti stasiun pengisian. Dan, Thailand dan Malaysia tampaknya sedang memimpin.

Loading...