Batu Bara & Emisi Kendaraan Jadi Penyebab Utama Kabut Asap di Beijing

The Beijing West Railway station dalam pengamatan 6 hari.

Bulan lalu dan kota-kota di sekitarnya terkena kabut asap yang merupakan akibat dari polusi udara. Polusi udara terburuk yang melanda Ibu Kota China dalam setahun ini membuat mengeluarkan peringatan merah selama 5 hari untuk dan 22 kota lain agar meliburkan sekolah dan menyingkirkan setengah dari seluruh pribadi yang ada di jalanan. Namun bagi banyak penduduk, kabut asap telah menjadi sebuah fenomena musiman dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan China Utara yang mengalami musim dingin terdingin sejak 2012, permintaan untuk pemanasan pun telah melonjak. Sebagian besar terus dipenuhi oleh pembangkit listrik bertenaga batu bara yang bersamaan dengan penggunaan batu bara untuk berat yang memancarkan debu halus dan menyumbang sekitar setengah dari PM 2,5 (partikulat halus) polusi.

Penyumbang kedua dari polusi ini adalah emisi dari kendaraan. Ditambah dengan kelembapan tinggi dan kurangnya angin karena Beijing dikelilingi 3 sisi pegunungan, maka kepadatan tinggi partikel di udara menyebabkan kabut asap tajam seperti saat ini.

Namun bagi sebagian besar penduduk, kabut asap musiman itu tidak seburuk pada tahun 2015 ketika pemerintah Beijing mengeluarkan 2 peringatan merah dalam 2 minggu atau ‘airpocalypse’ dari 2013 yang melihat pembacaan kualitas udara naik sampai 993.

Rencana pemerintah pusat untuk melawan polusi saat ini masih terhambat oleh berbagai prioritas. Pasalnya, China masih menggunakan banyak batu bara sebagai bahan bakar utama. Namun, sejak Donald terpilih, China tampaknya akan memimpin sebagai negara yang mencetuskan energi terbarukan.

Permintaan China untuk terus menurun sejak memuncak pada tahun 2014. Hal ini disebabkan karena pergeseran perekonomian China dan langkah tegas pemerintah menghadapi polusi.

Sejak 2015 pemerintah telah menginvestasikan dana USD 103 miliar untuk kapasitas tenaga surya dan angin. Nilai ini bahkan melebihi investasi untuk AS dan Eropa jika dikombinasikan. Pemerintah juga mengeluarkan banyak perintah untuk pembatasan polusi udara seperti pengurangan 33% emisi PM 2,5 pada akhir tahun ini untuk kota yang paling terkena dampak seperti Shijiazhuang dan Tangshan di Provinsi Hebei, yang mengelilingi Beijing.

Sementara itu pertumbuhan tahunan China turun menjadi 6,7% pada 3 kuartal pertama tahun 2016, tingkat paling lambat dalam 25 tahun. Perlambatan pertumbuhan juga memaksa pemerintah untuk kembali ke pola lama dengan mencoba merangsang pertumbuhan industri berat. Hal ini yang menyebabkan besar di Hebei menyumbang tingkat polusi lebih buruk dari tahun 2015.

Loading...