Kurang Berani & Inovatif, Bank Syariah Cuma Sumbang 5% Pasar Perbankan Nasional

Bank Syariah - www.hipwee.comBank Syariah - www.hipwee.com

JAKARTA – Dengan populasi umat terbesar di dunia, dan pemerintahan baru yang dikabarkan tertarik untuk mengembangkan , sektor perbankan dalam negeri seharusnya mampu berdiri kokoh. Sayangnya, sektor ini telah lama terganggu oleh kurangnya aset yang menarik, pemasaran yang buruk, dan sumber daya manusia yang tidak memadai, sehingga hanya mampu menyumbang 5% dari keseluruhan pasar perbankan .

Dilansir dari Nikkei, salah bank syariah lawas, Bank Muamalat, hampir pingsan awal tahun ini karena tekanan penurunan laba dan pembiayaan yang buruk, bahkan ketika berusaha untuk melipatgandakan ukuran perbankan syariah di Indonesia hanya dalam lima tahun. Untungnya, wakil presiden terpilih, Ma’ruf Amin, bersedia turun tangan dan segera membahas rencana penyelamatan dengan Presiden Joko Widodo.

Bank Muamalat bukan satu-satunya pemberi pinjaman berbasis syariah yang menghadapi tantangan di ini, meskipun berpenduduk sekitar 220 juta umat Muslim. Pelaku industri di seminar perbankan Islam di Jakarta bulan lalu mayoritas skeptis. Banyak yang menunjuk ke bank syariah yang terbatas dan kurang menarik dibandingkan dengan bank konvensional. “Semoga kita dalam perbankan syariah tidak hanya pandai membaca (Al Quran), tetapi juga pandai perbankan,” komentar seorang bankir pada konferensi.

Sebenarnya, prospek tampak menjanjikan. Aceh, satu-satunya provinsi di Indonesia yang secara resmi mengadopsi peraturan yang sesuai dengan syariah, dengan jumlah penduduk 5 juta orang, telah mewajibkan semua bank lokal untuk mematuhi syariah. Bank syariah, termasuk anak perusahaan dari pemain konvensional besar, yang mengontrol aset senilai Rp492 triliun di antara mereka, tertarik untuk memanfaatkan langkah ini.

Ambil contoh BRI Syariah, unit usaha milik Bank Rakyat Indonesia (BRI), pemberi pinjaman terbesar berdasarkan aset. Di Aceh, semua operasi BRI harus ditransfer ke BRI Syariah, yang mulai berlaku penuh pada tahun 2021. Ini akan menambah 2 juta pelanggan ke basis pemberi pinjaman syariah yang ada sebesar 2,8 juta, dan menambahkan Rp13,5 triliun dalam aset menjadi Rp36,8 triliun pada Juni.

“Kami telah menyiapkan izin dan infrastruktur untuk mengubah portofolio bisnis perusahaan induk, BRI, di Aceh,” kata Sekretaris Perusahaan BRI Syariah, Mulyatno Rachmanto, kepada Nikkei Asian Review. “Implementasi dari peraturan akan memiliki dampak besar pada peningkatan kinerja BRI Syariah, baik itu dalam aspek pendanaan, pembiayaan, atau profitabilitas.”

Di tempat lain, beberapa pemerintah provinsi berencana untuk mengonversi bank lokal yang mereka miliki menjadi entitas yang tunduk pada aturan syariah, menyusul keberhasilan konversi Bank NTB menjadi Bank NTB Syariah di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun lalu. Di antara mereka yang ingin mengikuti adalah Bank Nagari di Provinsi Sumatera Barat dan Bank Riau Kepri di Provinsi Riau.

Sementara, di tingkat nasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana untuk mengeluarkan peraturan pada tahun ini yang akan memungkinkan unit syariah untuk menggunakan infrastruktur yang ada dari perusahaan induknya. Ini sebagian untuk memfasilitasi persyaratan bahwa bank konvensional mengubah operasi jendela syariah mereka menjadi anak perusahaan yang berdiri sendiri pada tahun 2023 mendatang.

Indonesia sendiri berada di peringkat kep-10 dalam keuangan Islam yang disusun oleh Thomson Reuters dan DinarStandard dalam State of Islamic Economy Report 2018/19. Moody’s Service pun memuji kemajuan Indonesia dalam meningkatkan keuangan syariah, yang ingin ditingkatkan dari pangsa pasar 5,96% pada akhir tahun lalu menjadi 20% pada 2024. “Kami percaya pemerintah Malaysia dan Indonesia akan terus berkomitmen untuk mengembangkan perbankan syariah, dan mereka berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target pertumbuhan di sektor ini,” tulis Moody’s.

Sayangnya, yang lain tampak tidak terlalu optimis. Dalam survei PwC Indonesia tahun lalu, sebagian besar bankir memperkirakan bahwa perbankan syariah akan tumbuh sedikit dalam hal pangsa pasar selama delapan tahun ke depan. Menurut seorang bankir, untuk mengejar ketertinggalan, bank syariah tidak boleh berhenti hanya di ‘halal dan dilarang’. “Mereka harus membuat terobosan (produk) untuk mengungguli bank konvensional,” katanya.

Gary Hanniffy, direktur kelompok lembaga keuangan di Fitch Ratings Indonesia, mengatakan bahwa bank-bank syariah di Indonesia sebenarnya telah mengembangkan berbagai produk yang lebih luas, tetapi perlu memasarkannya dan mendidik pelanggan mereka dengan lebih baik. Bank syariah, dengan anggaran yang lebih kecil, cenderung beriklan jauh lebih tidak agresif daripada bank konvensional yang lebih besar.

“Perlu juga sumber daya manusia di perbankan syariah, khususnya dalam manajemen risiko,” tutur Gary. “Sektor syariah secara keseluruhan versus sektor perbankan konvensional, kami telah melihat itu sudah lebih lemah dalam hal kualitas aset. Ada lebih banyak yang perlu dilakukan di seluruh sektor dalam hal mencoba meningkatkan manajemen risiko.”

Kontroversi seputar Bank Muamalat adalah contohnya. Manajemen risiko bank yang buruk telah dipersalahkan atas masalah yang terus-menerus dalam hal pembiayaan, yang setara dengan pinjaman bermasalah di bank konvensional, yang mencapai 4,5% bersih pada semester pertama tahun ini. Laba bersih bank anjlok menjadi Rp5,1 miliar dari Rp103,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Loading...