Bank Dunia Kucurkan Rp 2,6 Triliun untuk Pembangunan Infrastruktur Indonesia

Jakarta – Badan Direksi Eksekutif telah menyetujui tambahan dana senilai USD 200 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun pada Jumat (24/3) waktu setempat untuk mendukung oleh sektor .

Pendanaan tersebut diberikan untuk mendukung lembaga keuangan non-bank, PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF). Bank Dunia dan International Finance Corporation (IFC) sudah mengucurkan dana untuk PT IIF yang selama ini membiayai sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia.

“Ada kebutuhan besar untuk investasi di bidang infrastruktur dan sumber daya manusia atau orang-orangnya, karena Indonesia sudah menjadi negara yang makmur, negara dengan tingkat pendapatan yang tinggi. Infrastruktur yang lebih baik akan membawa peningkatan daya saing dan memperluas akses terhadap pelayanan pokok, yang memberkan manfaat bagi rakyat miskin di negara ini,” ujar Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo A Chaves.

Indonesia sendiri membutuhkan dana untuk pengembangan infrastruktur sekitar USD 60 miliar per tahun dengan kerugian lebih dari 1% dari PDB karena minimnya investasi untuk sektor infrastruktur. Dengan adanya bantuan dana dari , PT IIF pun ke depannya akan lebih leluasa dalam membiayai proyek-proyek infrastruktur jangka panjang.

“Pasar infrastruktur Indonesia membutuhkan modal jangka panjang, khususnya utang jangka panjang dalam rupiah untuk memastikan bahwa proyek-proyek infrastruktur dibiayai secara berkelanjutan. Ada peningkatan pengakuan bahwa dana publik saja tidak akan cukup untuk mengisi kesenjangan pembiayaan infrastruktur,” ungkap Kepala Spesialis Sektor Keuangan Bank Dunia, Christopher Juan Costain.

Tahun 2009 silam Bank Dunia juga pernah memberikan pembiayaan senilai USD 100 juta pada PT IIF untuk membangun 18 proyek di sektor transportasi, listrik, energi terbarukan, dan telekomunikasi. Menurut Presiden Direktur dan CEO PT IIF, Ari Soerono, dana tambahan dari Bank Dunia tersebut akan mendukung PT IIF dalam mendanai pengembangan infrastruktur di Indonesia, terutama oleh sektor swasta.

“Partisipasi sektor swasta yang lebih kuat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan proyek-proyek infrastruktur yang sangat besar di Indonesia,” kata Ari.

Share this post

PinIt
Loading...
scroll to top