Bahan Radioaktif Nuklir Dilaporkan Tersebar di Kawasan Eropa

Bahan Radioaktif Nuklir Dilaporkan Tersebar di Kawasan Eropa

Paris – Badan teknis regulator ASN, L’Institut de Radioprotection et de Sûreté Nucléaire (IRSN) melaporkan pada hari Kamis (9/11) lalu bahwa dalam beberapa pekan terakhir ini pihaknya dan beberapa keselamatan nuklir lain di telah mengukur tingkat ruthenium 106 yang tinggi. Zat ruthenium 106 sendiri diketahui sebagai nuklida radioaktif yang merupakan produk dari pemisahan atom dalam reaktor nuklir dan tidak terjadi secara alami.

IRSN memperkirakan jumlah rutenium 106 yang dikeluarkan cukup besar, antara 100 hingga 300 teraBecquerel (TBq). “Hasil pengukuran dari stasiun-stasiun di Eropa yang dikomunikasikan ke institut sejak 3 Oktober 2017 telah mengonfirmasi adanya rutenium-106 di atmosfer mayoritas -negara Eropa,” kata IRSN, seperti dilansir Reuters.

Apabila terjadi pelepasan rutenium dalam jumlah tersebut di Perancis, maka diperlukan adanya evakuasi dalam radius beberapa kilometer di sekitar lokasi kejadian. Awan radioaktif yang tersebar di kawasan Eropa tersebut diperkirakan berasal dari fasilitas nuklir di Rusia atau Kazakhstan. Berdasarkan pola cuaca, penyebaran ini diduga terjadi di sebelah selatan Pegunungan Ural.

Sementara itu, IRSN mengesampingkan adanya di sebuah reaktor nuklir dengan mengatakan bahwa hal ini mungkin berasal dari tempat perawatan bakar nuklir atau pusat obat-obatan radioaktif. Pasalnya, tak ada kontaminasi rutenium 106 dengan zat lain.

IRSN juga mengesampingkan kemungkinan jatuhnya satelit bertenaga rutenium usai Institute of Advanced Engineering and Science (IAES) menyatakan tidak adanya satelit bertenaga rutenium yang jatuh ke bumi dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan pengukuran dari sejumlah pusat pengamatan di Eropa, rutenium 106 dalam jumlah tinggi di atmosfer sebagian besar negara Eropa berlangsung sejak awal Oktober 2017, akan tetapi menurun secara stabil sejak 6 Oktober 2017.

Lebih lanjut IRSN menyatakan bahwa meskipun memancarkan zat radioaktif, konsentrasi rutenium 106 sejauh ini tidak ada dampak pada manusia atau di Eropa. Di samping itu, IRSN juga mengungkapkan jika kemungkinan tercemarnya makanan, terutama jamur oleh rutenium 106 di dekat lokasi kejadian pun cukup rendah.

Saat ditanyai mengenai kemungkinan bocornya reaktor nuklir dari Rusia, salah seorang pejabat Rusia mengaku tidak tahu-menahu akan hal tersebut. “Pihak berwenang Rusia mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya kecelakaan di mereka,” ungkap direktur IRSN Jean-Marc Peres.

Loading...