Badai La Nina Diprediksi Mengancam Pertambangan di Asia

Yangon – Fenomena cuaca La Nina yang merupakan saudara dari El Nino pada bulan September lalu telah kembali menyerang Pasifik. Kini perkiraan versi substansial yang lebih kuat dari La Nina akan mengancam pantai dan di sekitarnya yang berpotensi mengakibatkan harga bijih besi dan lain .

CPC mengatakan jika ada kemungkinan 70% dari La Nina akan berkembang selama beberapa bulan ini, naik dari perkiraan September yang kemungkinannya hanya sekitar 40-45%. Pusat mengatakan ada 55% kemungkinan La Nina akan berlanjut hingga akhir 2016 dan mulai 2017.

La Nina akan mendorong topan ke arah barat dan kemungkinan mencapai daratan di Australia, bagian dari Oceania, Asia Tenggara, dan China, serta cenderung mengganggu pertambangan dan pengiriman bijih besi maupun .

“Kuartal pertama setiap tahun biasanya paling lemah untuk pasokan lewat , baik untuk komoditas bijih besi dan batu bara karena cuaca basah dan dengan kondisi yang diperkirakan lebih buruk dari biasanya, pasar ini bisa lebih ketat dalam jangka waktu lama,” ujar analis di Macquarie.

Badai La Nina juga akan mengancam Indonesia sebagai eksportir utama batu bara termal ke China dan India, serta nikel dan tembaga terbesar. Filipina sebagai eksportir nikel terbesar di dunia juga akan terkena imbasnya.

“Tahun ini, karena La Nina, curah hujan cenderung lebih jauh ke timur termasuk negara-negara Asia seperti Malaysia, Filipina, dan Papua Nugini,” demikian menurut keterangan situs analisis cuaca Skymet Weather. “Hujan ini akan mendukung kondisi kekeringan yang sudah lazim di wilayah Asia Tenggara selama beberapa tahun terakhir.”

Badai La Nina bisa merangsang harga bijih besi yang naik tiba-tiba naik tahun 2016, naik kembali ke harga 45-55 per metrik ton antara Mei dan September, dari posisi terendah 10 tahun di bawah 40 per metrik ton pada Desember 2015. Sementara itu, harga bijih besi di laut berkisar antara 40 dan 60 per metrik ton pada 2016 dengan rata-rata YTD (year to date) dari 54 per metrik ton.

Loading...