Awali Pekan, Rupiah Stagnan di Level Rp14.544/USD

Rupiah mengawali perdagangan awal pekan (26/11) di posisi stagnan dari perdagangan sebelumnya - metrotvnews.com

JAKARTA – Rupiah mengawali perdagangan awal pekan (26/11) ini di posisi stagnan dari perdagangan sebelumnya. Seperti dituturkan Index, Garuda membuka transaksi di level Rp14.544 per dolar . Kemudian, spot bergerak menguat tipis 1 poin atau 0,01% ke posisi Rp14.543 per dolar pada pukul 08.19 WIB.

“Rupiah masih berpotensi menguat di tengah AS- yang memanas karena ada perkembangan positif dari Brexit yang menekan laju dolar AS,” kata analis Asia Trade Point Futures, Deddy Yusuf Siregar, dilansir . “Perkembangan dari kawasan Eropa, khususnya Inggris, yang mendapat terobosan positif dari perundingan Brexit sempat mengalihkan fokus pelaku kepada aset berisiko dan menekan dolar AS.”

Selain itu, lanjut Deddy, minyak mentah dunia yang anjlok juga menjadi dorongan penguatan rupiah karena pelaku pasar berharap ada penurunan defisit transaksi berjalan Indonesia yang didominasi oleh defisit belanja minyak. Seperti diketahui, minyak merosot hampir 8% ke level terendah dalam setahun dan mencatatkan penurunan selama tujuh minggu beruntun di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan.

Hampir senada, analis senior CSA Research Institute, Reza Priyambada, menuturkan bahwa kembali menguatnya rupiah setelah sempat melemah membuka peluang untuk kenaikan lanjutan. Adanya sejumlah sentimen negatif dari luar negeri diharapkan tidal lagi menghalangi laju mata uang Garuda untuk kembali bergerak positif.

“Masih adanya sentimen dari perang dagang dan jelang pertemuan AS dan China dimungkinkan bagi dolar AS untuk bergerak menguat, dan bisa menghalangi laju rupiah,” ujar Reza. “Untuk itu, diharapkan dapat diimbangi dengan sentimen dari dalam negeri yang lebih positif. Tetap cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat menghalangi kenaikan rupiah.”

Sementara itu, kepala ekonom BCA, David Sumual, menjelaskan bahwa rupiah cenderung menguat karena adanya perkembangan isu-isu global, terutama pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang dinilai menenangkan pasar perihal pertemuannya dengan Presiden China, Xi Jinping, pada akhir November ini. Dalam jangka pendek sampai hasil pertemuan AS-Tiongkok, kemungkinan ada konsolidasi penguatan mata uang emerging market, khususnya rupiah.

Loading...