Awali Pekan, Rupiah Dibuka Stagnan di Rp14.450/USD

Rupiah stagnan diawal perdagangan Senin (20/5)Rupiah stagnan diawal perdagangan Senin (20/5) - www.beritasatu.com

mengawali Senin (20/5) ini di posisi yang sama seperti penutupan transaksi sebelumnya. Menurut laporan Index, mata uang Garuda dibuka di level stagnan Rp14.450 per . Kemudian, pada pukul 08.20 WIB, spot melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke posisi Rp14.452 per dolar .

“Pergerakan rupiah pada awal pekan ini masih akan dipengaruhi sentimen yang terjadi sejak tengah pekan kemarin,” ujar Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dilansir Kontan. “Misalnya, keputusan Presiden AS, Donald Trump, yang akan menunda kenaikan di sektor otomotif hingga hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6%.”

Menurut Josua, rupiah berpotensi volatil jika tiba-tiba ada pernyataan Trump yang mengundang kontroversi. Potensi pelemahan mata uang domestik pun masih ada, apalagi akhir bulan Mei ini diperkirakan menjadi puncak meningkatnya kebutuhan valas di Indonesia, akibat musim pembagian dividen serta peningkatan belanja konsumsi masyarakat atau pemerintah jelang Lebaran.

Sementara itu, analis Asia Tradepoint Futures, Deddy Yusuf Siregar, menuturkan bahwa rupiah sebenarnya sudah sangat undervalue akibat pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Alhasil, wajar apabila rupiah mampu rebound pada akhir minggu (17/5) kemarin. “Pairing /IDR sudah di area overbought sehingga secara teknikal koreksi bagi sangat mungkin terjadi,” kata Deddy.

“Faktor teknikal masih akan memainkan peran penting bagi pergerakan rupiah di awal pekan ini. Apalagi, belum ada data AS terbaru yang bisa memengaruhi pergerakan rupiah secara signifikan,” lanjut Deddy. “Rupiah berpeluang menguat pada hari ini di kisaran Rp14.430 hingga Rp14.450 per dollar AS.”

Pada akhir pekan kemarin, rupiah mampu bangkit dari keterpurukan dengan ditutup menguat tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp14.450 per dolar AS. Mata uang Garuda naik ketika pergerakan indeks dolar AS berangsur menurun, di tengah laporan data perumahan AS yang lebih kuat dan lonjakan imbal hasil Treasury.

Loading...